Bangli Bentuk Lumbung Sosial di Tiga Desa

  • Whatsapp
KEPALA Dinas Sosial Bangli, Wayan Karmawan. Foto: ist

BANGLI – Menindaklanjuti arahan Menteri Sosial, Tri Rismaharini saat meninjau Desa Terunyan yang menjadi salah satu daerah terdampak bencana gempa dan tanah longsor, Dinas Sosial Bangli membentuk empat Lumbung Sosial di tiga desa di Kecamatan Kintamani. Lumbung Sosial dimaksudkan sebagai kesiapsiagaan terhadap penanggulangan bencana.

Kepala Dinas Sosial Bangli, I Wayan Karmawan, Kamis (18/11/2021) mengatakan, instansinya berinisiatif membentuk empat Lumbung Sosial di tiga desa yang terdampak.

Bacaan Lainnya

Empat Lumbung Sosial itu didirikan dengan memanfaatkan balai banjar di masing-masing titik, yakni Banjar Abang, Desa Abang Songan; Banjar Dukuh, Desa Abang Batudinding; dan Banjar Terunyan serta Banjar Bunut, Desa Terunyan.

Empat titik tersebut merupakan perwakilan dari desa yang terdampak. “Sebab, warga di empat titik inilah yang terdampak akses jalan. Khusus di Desa Terunyan ada dua titik, karena untuk Banjar Bunut lokasinya berada di balik bukit,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, pendirian Lumbung Sosial tersebut untuk membantu masyarakat di tiga desa yang selama ini masih terdampak bencana gempa dan longsor. Sebab, hingga kini satu-satunya akses jalur darat di kaki Bukit Abang itu belum dibuka sepenuhnya.

Sesungguhnya, jelas Karmawan, Lumbung Sosial resmi didirikan sejak 5 November lalu. Sejumlah barang kebutuhan pokok mulai dari beras, makanan kaleng, kebutuhan mandi, jas hujan, air minum dan sebagainya didistribusikan dan ditempatkan di balai banjar setempat.

Baca juga :  Dua Pekan Pasca Dilantik, Pengprov TI Bali Gelar Rekerda Perdana

“Termasuk juga kami distribusikan tiga perahu karet, tapi untuk mesinnya baru satu yang didistribusikan. Sisa dua unit menunggu dari Kementerian untuk penyerahan langsung,” terangnya.

Pengelolaan dan pertanggungjawaban Lumbung Sosial, imbuhnya, diberi kewenangan kepada kepala dusun setempat dengan tetap berkoordinasi dengan Dinas Sosial saat hendak mendistribusikan.

Dia mendaku sejauh ini keterisian Lumbung Beras masih terbatas. Misalnya beras, tiap Lumbung Sosial baru disiagakan sebanyak 400 kg. Karena itu, jika terjadi bencana, bantuan lebih diprioritaskan bagi korban bencana.

“Selain itu, mengingat di Lumbung Sosial juga terdapat barang yang memiliki kedaluwarsa, maka diambil kebijakan minimal tiga bulan sebelum kedaluwarsa bisa didistribusikan baik ada bencana maupun tidak,” ungkapnya.

Menimbang jalur darat belum terbuka sepenuhnya, tambahnya, untuk kebutuhan masyarakat masih mengandalkan bantuan pihak ketiga yang tersimpan di gudang Kedisan, yang dikoordinir sekretariat kebencanaan. Soal kesinambungan Lumbung Sosial, Karmawan mengakui belum ada arahan lebih lanjut dari Kementerian.

Tapi secara pribadi, Karmawan sangat berharap Lumbung Sosial bisa berkesinambungan, bahkan dikembangkan tidak hanya sebatas di empat titik tersebut.

“Nanti kami akan usulkan lagi, kalau bisa juga tersedia di daerah-daerah rawan lainnya. Terutama di 15 desa yang ada di kawasan kaldera Batur itu,” pungkasnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.