Amerta Janjikan Bantuan Tunai, Jaya-Wibawa Fokus Pemulihan Ekonomi

  • Whatsapp
KADEK Dwita Apriani. Foto: Ist
KADEK Dwita Apriani. Foto: Ist

DENPASAR – Debat kandidat, Sabtu (10/10/2020) malam menjadi panggung tebar janji paslon Jaya Wibawa dan Amerta jika kelak dipilih sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Denpasar. Jika konten janji dan tawaran program disarikan, termasuk dalam pernyataan penutup, Jaya Wibawa fokus kepada penanganan pandemi Covid-19 lewat kesehatan ekonomi dan ekonomi. Di kutub lain, Amerta menekankan kepada bantuan tunai kepada sejumlah elemen masyarakat, termasuk UMKM, ditambah janji siap mundur jika dalam dua tahun janji tidak bisa dipenuhi.

Mendapat kesempatan pertama dalam pernyataan penutup, Ngurah Ambara menyebut subsidi dan stimulus kepada warga dan UMKM sebagai program jangka pendek. Untuk jangka panjang yang disasar yakni kemandirian masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, dengan memenuhi kebutuhan dasar dan kemudahan mengakses bantuan melalui digitalisasi. Sekolah gratis juga dijanjikan terwujud, dan dia menegaskan, “Jika dua tahun tidak terbukti, kami siap mundur.”

Bacaan Lainnya

Ketika tiba gilirannya, Jaya Negara mendaku sadar Pilkada 2020 sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Karena itu Jaya Wibawa fokus menangani masalah Corona lewat kesehatan dan pemulihan ekonomi. Konkret untuk kesehatan, dia prioritas menyiapkan alat PCR (tes usap Covid-19) di RS Wangaya, dan sudah koordinasi dengan Pemprov Bali tanggal 15 Oktober sudah datang. Pemulihan ekonomi yang kini deflasi minus 0,16, sebutnya, menandakan daya beli masyarakat menurun.

Baca juga :  Tekan Penyebaran Covid-19, Pemkot Denpasar Terima 8 Wastafel Portabel

Mengatasi itu, dia menawarkan pelatihan yang bekerja sama dengan inkubator ekonomi di Denpasar. Juga menyiapkan modal, dan menyiapkan siapkan aplikasi font Bali untuk memasarkan produk masyarakat yang terdampak pandemi secara daring. Pasarnya adalah para PNS di Kota Denpasar yang akan diwajibkan membeli produk tersebut. “Dengan kerendahan hati agar warga Denpasar hadir ke TPS tanggal 9 Desember, mari coblos nomor satu menuju Denpasar maju,” serunya bersama Kadek Agus.

Karena debat kandidat sebagai media amplifikasi visi-misi paslon, kata akademisi FISIP Unud, Kadek Dwita Apriani, yang perlu diperhatikan saat ini adalah seberapa jauh distribusi acara tersebut di masyarakat. Meski KPU Denpasar menyediakan TVRI dan kanal Youtube saat debat berlangsung, layak dicermati berapa banyak yang menonton dari saluran yang ada sebagai satu indikator berhasil-tidaknya acara itu. “Saya rasa ini tantangan KPU Denpasar untuk memastikan acara itu benar-benar menyentuh ke publik, minimal dapat menggerakkan mereka datang ke TPS. Ini perlu diuji,” cetusnya, Minggu (11/10/2020).

Tidak hanya KPU, sebutnya, paslon dengan struktur tim pemenangan juga bertanggung jawab memastikan pesan dalam debat dikonsumsi khalayak. Sekurang-kurangnya janji dan program paslon dalam debat sebagai salah satu alat penting menggugah animo memilih, nyata diketahui dan dicerna masyarakat. Target itu yang butuh inovasi semua pihak dengan KPU sebagai ujungtombak.

Membandingkan dengan Pilpres 2019, dia menyebut usai debat banyak ditemukan potongan pernyataan paslon yang disebar di media sosial untuk mempengaruhi pilihan penonton. Jangan sampai paslon dan KPU asyik sendiri saat debat, tapi lupa membangkitkan antusiasme masyarakat. Hanya, dia tak memungkiri, kondisi pandemi yang penuh restriksi juga menyulitkan KPU dan paslon untuk agresif untuk menjangkau khalayak.

Baca juga :  Brimob Polda Bali Turunkan Water Cannon Usir Covid-19

“Yang kita khawatirkan itu kan, misal debatnya hambar, animo orang ke TPS juga hambar. Infrastruktur komunikasi di Denpasar sangat bagus, tinggal bagaimana inovasi KPU, paslon dan pihak terkait mengamplifikasi pesan dalam debat tersebut,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.