POSMERDEKA.COM, KARANGASEM – Pelayanan RSUD Karangasem dikeluhkan warga lantaran ada pasien yang seharusnya mendapat pelayanan urgen, tapi dilayani tidak serius. Hal tersebut terlihat dari sebuah postingan akun Facebook (FB) bernama Jsg Gresstreck, yang mengungkapkan kekecewaan terhadap miskinnya pelayanan petugas RSUD Karangasem.
Dalam video tersebut, si pengunggah mengatakan “Rumah sakit besar, pelayanan tidak ada, dokter tidak ada, ini keluarga saya dari jam 2 pagi masuk rumah sakit karena jatuh kepalanya terbentur sampai sekarang belum ada penanganan. Omongannya mau dirujuk tapi tidak dirujuk. Inilah rumah sakit karangasem, dokternya kayak raja, pasiennya ditelantarkan,” tuduh pemilik akun FB Jsg Gresstteck dalam unggahan video tersebut.
Saat dikonfirmasi, pemilik akun tersebut ternyata tokoh masyarakat asal Sebudi, Selat, Karangasem yakni Jero Mangku Gede alias Jero Galon. Dihubungi via telepon, Jero Mangku Gede menjelaskan terkait postingan yang diunggah lewat media sosial tersebut. Dia menyebut berawal dari keponakannya bernama Putu Arianta kena musibah hingga terluka di bagian kepala.
“Itu saya ajak ke rumah sakit pada Selasa (16/12/2025), dan sempat saya buat postingan karena saya merasa tidak mendapat pelayanan maksimal. Mengingat kondisi keponakan saya lukanya serius, akhirnya saya putuskan untuk mengajak berobat ke rumah sakit di Kabupaten Klungkung,” tuturnya, Rabu (17/12/2025).
Lebih lanjut dikatakan, setelah berada di rumah sakit Klungkung, di sana langsung mendapat penanganan. Yang membuat dia sedih adalah kenapa saat di rumah sakit Karangasem, pasien dinyatakan tidak kenapa-kenapa. Setelah diajak ke rumah sakit Klungkung, setelah pemeriksaan, ternyata dinyatakan ada pendarahan di otak dan patah tulang kepala belakang.
“Itu pun saya ajak pulang paksa dari RSUD Karangasem untuk berobat ke RS Klungkung. Sedih saya, sampai kapan RSUD Karangasem seperti ini? Rumah sakit besar, kenapa layanannya seperti ini?” ketusnya.
RSUD Karangasem menampik tudingan tersebut. Direktur RSUD Karangasem, dr. Angga Wirayogi, saat ditemui, Rabu (17/12/2025) mengakui adanya pelayanan terhadap seorang pasien kecelakaan dengan benturan kepala, dirujuk dari Puskesmas Selat ke RSUD Karangasem pada Selasa (16/12/2025). Setelah itu perawatan di RSUD Karangasem sudah ditangani dokter bedah umum sesuai prosedur. Diagnosisnya cedera otak atau cedera kepala yang ringan ke sedang.
Saat terdiagnosis itu, maka dokter memutuskan untuk merawat di ruangan. “Ketika di ruangan sampai 12 jam itu hingga jam 1 hingga 2 siang kemarin, terjadi penurunan kondisi dari pasien. Saat itu respons dokter bedah kami sudah cepat memutuskan untuk rujuk, karena dalam situasi seperti itu harus ada pemeriksaan CT Scan. Di RSUD Karangasem belum tersedia, karena alat CT Scan baru diadakan oleh Kemenkes tahun 2026 mendatang.
Keputusan rujukan dari RSUD Karangasem ke RSUD Klungkung, diklaim dimohonkan izin ke RSUD Klungkung. Dia menyebut berkomunikasi dari jam 2 siang, disuruh menunggu kesediaan ICU dan perlengkapan bedah saraf yang harus dituruti. “Logikanya, ketika kita memohon untuk perawatan seorang pasien ke RSUD tertentu, komunikasi tenaga medis UGD kami ke UGD RSUD Klungkung harus nyambung,” terangnya.
“Restu dari RSUD Klungkung baru kami dapatkan jam 7 malam. Itu pun saya yang melobi ke dokter bedah sarafnya agar difasilitasi, karena pasien ini urgent emergency. Ketika sudah bersiap untuk dikirim, pasien menolak untuk dikirim karena sudah komplain. Menolak, akhirnya berangkat sendiri,” sebutnya.
Wirayogi menyatakan, ketika RSUD Klungkung siap, maka bisa ditangani dengan cepat. “Kalau ujug-ujug ke sana tentu belum siap, belum bisa ditangani cepat. Itu harus kami lakukan, karena ketika kami transfer pasien tanpa kesiapan pihak yang menerima, itu menyalahi etika kami,” pungkas Wirayogi. nad
























