Tokoh Pariwisata Dukung Upaya Gubernur Ubah Struktur Ekonomi Bali

  • Whatsapp
IGN Rai Suryawijaya. Foto: dok
IGN Rai Suryawijaya. Foto: dok

MANGUPURA – Gubernur Bali, Wayan Koster, Rabu (20/10/2021) meluncurkan buku “Ekonomi Kerthi Bali, Menuju Bali Era Baru” di Taman Budaya Denpasar. Salah satu isi buku itu, Wayan Koster ingin mengubah struktur ekonomi Bali, yang selama ini menempatkan sektor pariwisata sebagai unggulan utama yakni sampai lebih kurang 54 persen.

Dalam buku yang ditulis Wayan Koster sendiri, di masa mendatang, ia mengingatkan supaya sektor pertanian, kelautan, kerajinan, industri menjadi unggulan Bali sesuai dengan kondisi alam, manusia Bali dan budaya Bali. Sementara sektor parwisata menjadi bonus bagi Bali, karena merupakan objek wisata internasional.

Bacaan Lainnya

Menanggapi ide Gubernur Koster itu, seorang tokoh pariwisata Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya dari Badung menyambut baik gagasan Gubernur yang ditulis dalam sebuah buku. “Ini ide yang cemerlang dari seorang pemimpin. Apalagi dituangkan dalam sebuah buku dan ditulis sendiri. Luar biasa,” kata Gung Rai asal Desa Adat Dalung yang juga ketua PHRI Badung itu.

Gung Rai mengatakan, sebagai sesepuh di desa adat, struktur fundamental ekonomi Bali yang selama ini sangat mengandalkan sektor parwisata perlu penyeimbang dari sektor lain seperti pertanian dalam arti luas.

Baca juga :  Diah Srikandi Nakhodai Komisi III DPRD Bali, Adhi Ardhana Terganjal Tatib

Ia mengatakan, memang banyak tantangan dan terjadi hambatan sebab lahan pertanian semakin sempit. Alih fungsi lahan basah mencapai 200 hektar per tahun. Untuk itulah perlu diubah  mindset (pola pikir)masyarakat supaya bangga menjadi petani. Termasuk mau terjun ke sektor peternakan, kelautan, kerajinan, dan budaya.

Selain itu pemerintah supaya menjamin kesejahteraan petani dan keluarga mereka dengan menaikan porsi anggaran untuk pertanian. Sikap pro-petani, sungguh-sungguh dilakukan semua pemimpin.

Untuk mengubah mindset kalangan generasi muda diperlukan sosialisasi ke desa-desa, supaya mereka bangga menjadi petani modern. Disiapkan fasilitas dan peralatan pertanian berbasis teknologi yang modern. Setop alih fungsi lahan dengan moratorium 5-10 tahun.

“Pemerintah harus memiliki komitmen yang kuat dengan regulasi yang pro-petani, menjaga kesejahteraan petani, memberikan keuntungan dari produk pertanian 20-40 persen dari biaya yang dikeluarkan. Jika perlu ikut mendukung permodalan petani itu sendiri,” pinta Gung Rai.

Di bagian lain, penglingsir Puri Dalung itu mengatakan, visi Gubernur Bali: “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, akan berpengaruh secara global dan boleh jadi menjadi role model dalam tata pemerintahan.

Akhirnya tokoh pariwisata itu mengatakan, untuk mewujudkan ‘Ekonomi Kerthi Bali’ menuju Bali Era Baru sesuai yang ditulis dalam buku tersebut, perlu didengungkan sampai ke desa-desa. Perlu Revolusi Ekonomi Bali dengan mengubah perilaku: “Bangga Menjadi Petani”. Sebab Bali tergantung dari alam Bali, manusia Bali dan budaya Bali dengan segala aspek kehidupannya.

Baca juga :  Polres Karangasem Ringkus 22 Oknum Pembuat dan Pengguna Surat Vaksin Covid-19 Palsu

Rai Suryawijaya juga sepakat, pariwisata hanya merupakan bonus bagi Bali karena terkenal dengan alam, agama, adat budaya dan keramahtamahan penduduknya. Pengalaman mencatat, pariwisata sangat rentan dengan kondisi eksternal (luar), seperti apa yang terjadi dalam dua tahun terakhi ini. nar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.