TK Swasta di Bangli Dominan Minim Fasilitas

KABID PAUD dan Pendidikan Non-Formal Disdikpora Bangli, Ni Putu Eka Noviani. Foto: ist
KABID PAUD dan Pendidikan Non-Formal Disdikpora Bangli, Ni Putu Eka Noviani. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Secara umum, kondisi sejumlah Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) di Bangli masih belum memuaskan, terutama TK swasta. SDM-nya rata-rata belum memenuhi kualifikasi Pendidikan Guru TK (PGTK), dan sarana prasarana (sarpras) yang dimiliki juga masih minim. Dari 86 TK di Bangli, hanya 19 TK negeri. Sisanya berstatus swasta dan sebagian besar di bawah naungan desa.

Kabid PAUD dan Pendidikan Non-Formal Disdikpora Bangli, Ni Putu Eka Noviani, Jumat (25/7/2025) mengatakan, walaupun ada 68 desa di Bangli, tapi ada beberapa desa memiliki dua TK. Jumlah PAUD di Bangli sebanyak 120, dan sebagian besar menaungi satuan pendidikan Kelompok Bermain (KB) dengan usia 3-4 tahun, serta TK dengan usia 5-6 tahun. KB merupakan pendidikan nonformal tidak wajib, sedangkan TK bersifat wajib.

Bacaan Lainnya

“Mulai tahun ini jadi salah satu syarat untuk bisa ke jenjang SD. Setahun saja di TK boleh, yang penting pernah mengenyam pendidikan awal,” terangnya.

Menurut hasil pendataan dari pusat, terangnya, semua desa di Bangli sudah ada sekolah TK. Hanya, diakui kondisi TK di Bangli, terutama yang swasta, masih tergolong cukup memprihatinkan. Kebanyakan SDM-nya masih kurang. Banyak guru TK yang belum memenuhi klasifikasi pendidikan, misalnya ada tamatan SMA yang menjadi guru. Hal itu terjadi karena guru TK diangkat oleh desa sesuai peraturan desa, dan orangnya juga dari desa setempat.

“Bahkan terkadang pegawai desa yang diperbantukan sebagai guru. Untuk guru TK tidak bisa didatangkan dari desa lain, karena penganggarannya menggunakan Dana Desa,” ungkapnya.

Selain persoalan SDM yang masih kurang, kondisi sarana prasarana yang ada di TK swasta rata-rata masih minim dan terbatas. Contohnya alat permainan edukasi, karena bergantung anggaran dari Dana Desa. Sementara untuk TK negeri relatif lebih memadai.

Sebagai tindak lanjut dari berbagai kendala yang  dialami di satuan pendidikan TK, Disdikpora mengaku melakukan berbagai upaya. Dia mendaku berupaya selalu memberi motivasi, terutama saat turun ke sekolah, agar guru yang masih muda bisa melanjutkan minimal ke S1 jurusan PGTK. “Dalam setiap pelatihan dan sosialisasi, kami juga kerap mengundang kepala sekolah dan operator untuk peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan, terutama hal-hal yang menyangkut  pelaporan,” pungkasnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses