DENPASAR – Memastikan mendapat gambaran situasi nyata bagaimana pilkada berlangsung dalam situasi pandemi Covid-19, KP Denpasar menyiapkan simulasi tahapan pemungutan dan penghitungan suara di TPS pada 8 November 2020 mendatang. Lokasi yang dipilih di Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan dengan meminjam ruang kelas di SDN 3 Serangan.
Memilih lokasi TPS yang akan dipakai, Ketua KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya; ditemani Sekretaris KPU Denpasar, I Made Wirawan; dan anggota PPS Serangan, Made Jaya, meninjau SDN 2 Serangan, Senin (19/10/2020). Mereka diterima Kepala Sekolah, I Ketut Merta. Pada prinsipnya Merta menyilakan kelasnya dipakai contoh TPS, dan luas ruangan dinilai merepresentasikan kondisi sebenarnya saat pemungutan suara. “Silakan saja dipakai, kebetulan juga siswa kami belum mulai sekolah. Masih daring,” terangnya.
Meski mendapat lampu hijau dari kepala sekolah, tapi rencana meminjam ruangan di SDN 2 Serangan urung dijalankan. Alasannya, kata Wirawan, dia mengantisipasi jangan sampai angka 2 jadi masalah. Akhirnya, pilihan dijatuhkan ke SDN 3 Serangan yang letaknya sebelah tembok dengan SDN 2 Serangan.
“Bukan apa-apa, kami mengantisipasi jangan sampai angka 2 itu dipersoalkan oleh salah satu pihak. Kalau ada pilihan lain, kenapa tidak pakai yang lebih netral?” jelas Wirawan saat ditanya alasan menggeser lokasi simulasi.
Menurut Arsajaya, simulasi diperlukan untuk mengukur bagaimana pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara, di tengah situasi pandemi yang mengandung sejumlah restriksi. Hal pertama yang difokuskan yakni bagaimana menjalankan protokol kesehatan (prokes) Covid-19 bagi penyelenggara dan pemilih di TPS. Misalnya disinfeksi secara berkala di TPS oleh KPPS, penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh KPPS dan pemilih.
“Sekurang-kurangnya masyarakat mendapat gambaran bagaimana penerapan prokes yang benar di TPS, seperti menunggu giliran, penjarakan fisik, dan mencoblos memakai sarung tangan. Begitu juga rekan-rekan KPPS bisa paham bagaimana mengumumkan untuk distansi fisik kepada pemilih secara berkala, juga disinfeksi TPS,” urainya.
Disinggung alasan memilih Kelurahan Serangan, Arsajaya berkata ada beberapa pertimbangan. Pertama, ulasnya, Kelurahan Serangan termasuk dalam zona hijau Corona. Dengan demikian, tingkat keamanan terhadap potensi terpapar virus relatif rendah. Kedua, berdasarkan data hasil Pemilu 2019, tingkat partisipasi pemilih mencapai di atas 90 persen.
Ketiga, imbuhnya, warga Serangan mayoritas sebagai nelayan. Hal ini menjadi satu segmentasi KPU RI untuk simulasi selain warga daerah urban dan daerah pegunungan. Terakhir, penggunaan ruang kelas sebagai TPS menjadi representasi dari situasi yang akan dijalankan KPU untuk pemungutan suara. “Desember itu musim hujan, jadi kami antisipasi sejak awal agar tahapan ini tidak terlalu terganggu dengan situasi cuaca,” ulas Arsajaya.
Dia menambahkan, meski pemungutan suara itu hanya simulasi, ada satu hal yang betulan dijalankan yakni tes cepat (rapid test) untuk KPPS di TPS 9 dengan 291 pemilih itu. Begitu juga pengaturan waktu kedatangan pemilih ke TPS. “Pemungutan suaranya simulasi, tapi rapid test kan tidak bisa simulasi,” pungkasnya berkelakar. hen
























