Ingatkan Penyelenggara Pilkada Profesional, Golkar Yakin “Swing Voters” Masuk Barisan Penantang

  • Whatsapp
SUGAWA Korry (tengah) saat memberi pengarahan kepada paslon Panji-Budi di Tabanan. Foto: Ist
SUGAWA Korry (tengah) saat memberi pengarahan kepada paslon Panji-Budi di Tabanan. Foto: Ist

DENPASAR – Angin perubahan dalam suksesi kepemimpinan di kabupaten/kota di Bali dinilai berembus kencang dalam Pilkada 2020. Salah satu entitas yang menginginkan perubahan yakni dari kelompok swing voters (pemilih belum menentukan pilihan). “Namun, jika terjadi pelbagai kecurangan, perubahan yang diinginkan akan sulit terwujud. Karena itu, kami berharap penyelenggara pemilu bertindak profesional,” kata Ketua DPD Partai Golkar Bali, I Nyoman Sugawa Korry, Senin (19/10/2020).

Sugawa mengingatkan, membiarkan kecurangan dan atau terlibat dalam kecurangan memiliki konsekuensi berat di masa mendatang. Menurutnya, berbuat curang sama dengan mengambil hak orang lain; dan karma buruk itu harus dibayar sampai dengan ke anak cucu. “Kami berharap tidak terjadi hal seperti itu,” cetusnya tanpa menjelaskan lebih jauh maksud pernyataan tersebut.

Bacaan Lainnya

Disinggung proyeksi paslon yang diusung Golkar, Sugawa bilang partainya kembali melakukan evaluasi dan pemantapan di Tabanan, Jembrana, dan Denpasar. Data tim pemenangan memperlihatkan semangat dan harapan begitu tinggi di tingkat akar rumput untuk suksesi pemimpin. Karena mengklaim harapan perubahan cukup kuat, dia sesumbar bukan tidak mungkin lahir “kejutan” di tiga wilayah itu.

“Dulu kami kesulitan untuk simakrama, tapi sekarang paslon kami sampai kewalahan menghadiri banyaknya undangan dari banyak elemen masyarakat,” serunya kendati tidak menjelaskan lebih detail data dimaksud.   

Baca juga :  Robinson Telaumbanua Turing Jawa-Bali Geliatkan Pariwisata di Tengah Pandemi

Hasil survei internal yang dilakukan, imbuhnya, masyarakat sampai September lalu masih terfragmentasi dalam kelompok swing voters yang besar, mencapai lebih dari 50 persen. Namun, lagi-lagi Sugawa mengklaim kelompok ini mulai bersikap dan masuk dalam barisan mendobrak hegemoni penguasa demi melahirkan perubahan.

Saat pengarahan di Tabanan, Sugawa menitip pesan kepada paslon AA Ngurah Panji-Dewa Budiasa (Panji-Budi). Pertama, paslon agar mengenali diri dan aspirasi masyarakat, terutama saat masa pandemi sekarang. Kedua, mengutip pertarungan antara Bima dengan Duryudana, dia berpesan agar Panji-Budi bertempur di wilayah yang dikenali, alih-alih masuk ke wilayah lawan. Ketiga, motivasi menang menjadi kunci kemenangan.

“Keempat, sanksi dan hadiah bagian penting dari strategi. Kelima, bangkitkan semangat perubahan di akar rumput untuk peluang kemenangan,” lugasnya.

Sugawa sadar, konsekuensi melawan petahana yakni popularitas penantang lebih rendah. Meski begitu, bukan berarti penantang tidak bisa menang. Dia mencontohkan kemenangan Tjokorda Arta Ardana Sukawati (Cok Ace) yang mampu mengalahkan AA Bharata di Pilkada Gianyar 2008, kendati popularitas Cok Ace hanya 35 persen berbanding 45 persen. “Sebagai penantang wajar popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas lebih rendah. Justru di sana pertempuran dimulai,” tandasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.