Salut! Mantan PMI Salurkan Bakat dengan Ukir Buah

  • Whatsapp
DEKORASI ukiran dengan menggunakan media buah. Foto: ist
DEKORASI ukiran dengan menggunakan media buah. Foto: ist

GIANYAR – I Ketut Alit Semara Putra, salah seorang mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Kenderan, Tegallalang, Gianyar memiliki kemampuan mengukir buah. Pada saat pandemi yang bikin lesu ekonomi ini, dia tetap berinovasi dan berkreasi dengan membuat ukiran buah. Pangsa pasarnya yakni untuk dekorasi acara pernikahan maupun seremonial lainnya. 

Ditemui pada Jumat (6/11/2020) dia menuturkan, kemampuan mengukir buah dipelajari sejak delapan tahun lalu, sebelum berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Pada mulanya dia memilih mengukir buah sebagai cara menyalurkan hobi mengukir. Alasannya, dia merasa lebih mudah menggunakan media buah, dan kemampuan itu terus diasah agar terbiasa membuat ukiran.

Bacaan Lainnya

Setiap tetangganya menggelar acara pernikahan, dia pun menggarap itu sebagai dekorasi. “Saya pilih mengukir di buah, karena media buah lebih soft (lembut) dan lebih cepat dikerjakan,” kisahnya. 

Alumnus SMA Negeri 1 Tegallalang ini menambahkan, buah yang biasanya diukir lebih banyak semangka, labu, pepaya, wortel, dan lobak. Semua buah itu proses pembuatannya lebih mudah, mudah pula mencari bahan, dan cocok memadukan warna maupun corak ukirannya. Untuk bentuk, dia menyebut bergantung permintaan. Lazimnya yang diminta bentuk wajah, bentuk burung, hewan, hingga bunga.

Baca juga :  Ratusan Pendatang Jalani Pemeriksaan Covid-19 di Pelabuhan Padangbai

Lebih jauh diungkapkan, yang memesan biasanya orang yang memiliki acara seperti pernikahan, atau pesta di hotel- hotel. Kendalanya, untuk membuat seperti diinginkan harus menyambung buah agar mendapat hasil maksimal. “Waktu pengerjaannya juga harus malam hari, agar pada saat acara berlangsung buah (tetap) terlihat segar,” jelasnya. 

Untuk harga, pria 29 tahun ini tidak mematok harga pasti. Alasannya, harga disesuaikan dengan seberapa besar permintaan dari pemesan. Selama ini rerata dia memberi harga antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta, dengan buah yang dia sediakan sendiri. Baginya yang terpenting dalam proses pembuatan dapat menuangkan karya seni melalui ukiran tersebut. “Saya tidak mematok harga, yang penting bisa menyalurkan karya seni,” tandasnya. 011

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.