BANGLI – Sarana dan prasana pendidikan sangat penting untuk menunjang kelanjaran proses belajar mengajar. Sebagai bentuk perhatian pemerintah seluruh proyek fisik di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Bangli yang dianggarkan dari pusat tahun ini dipastikan berjalan sesuai jadwal, meski di tegah pandemi Covid-19.
‘’Dari hasil monev Disdikpora, realisasinya telah mencapai 40 persen,’’ ucap Kadisdikpora Bangli, I Nengah Sukarta, saat dikonfirmasi, Rabu (26/8).
Dia menyebutkan, proyek fisik tahun ini tersebar di 23 sekolah, baik SD maupun tingkat SMP. Sementara kegiatan meliputi pembangunan ruang kelas baru, rehab, dan pembangunan sanitasi (toilet). Untuk pembangunan RKB (ruang kelas baru) dilaksanakan di SDN 2 Kawan, sedangkan rehab ruang kelas dilaksanaan di SDN Bunutin, SDN 6 Yangapi, dan SDN 3 Pengotan.
Selain itu, juga dilaksanakan rehab ruang perpustakaan di SDN 2 Kawan, SDN 1, dan SDN 4 Cempaga. ‘’Untuk rehab ruang belajar tingkat SMP di SMPN 6 dan SMPN 4 Kintamani serta SMPN 4 Bangli,’’ ujar Sukarta.
Lebih lanjut dikatakan, selain rehab ruang kelas dan perpustakaan, kegiatan juga berupa rehab ruangan laboratorium, ruangan guru, masing-masing di SMP N 2 Susut, SMPN 1 Susut, dan SMP 4 Kintamnai. Sedangkan pembangunan WC tersebar di 10 SMP dan SD.
‘’Ada sekolah yang kita kebut pekerjaanya, realisasinya mencapai 90 persen. Cuma saja, anggaran tahap II belum turun sehingga mereka ngebon bahan di toko bangunan,’’ ungkapnya.
Sementara saat disinggung kondisi ruangan perpustakaan sekolah, mantan Kadisos ini mendaku, hampir semua kondisi ruangan perpustakaan sudah rusak. Karenanya, pihaknya secara bertahap telah melakukan rehab, dan telah berjalan. ‘’Hingga kini tinggal beberapa perpustakaan yang belum tersentuh perehaban,’’ ujarnya.
Lebih lanjut Sukarta menambahkan, perbaikan perpustakaan ini memang termasuk skala prioritas. Karena sesuai arahan pemerintah pusat, harus membudayakan anak gemar membaca selama 15 menit.
Tujuannya, dengan membaca 15 menit setiap hari akan berdampak pada kemampuan anak untuk membaca dan berhitung. Cuma, saja untuk mewujudkan ini masih terkendala rendahnya budaya membaca pada anak-anak saat ini.
Karenannya, dibutuhkan inovasi pihak sekolah agar anak-anak kembali gemar membaca. ‘’Koleksi buku di perpustakaan sekolah cukup memadai, tinggal bagaimana cara sekolah untuk menggiring siswa agar mau membaca buku yang ada diperpustakaan,’’ pungkasnya. gia