POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Hari raya Saraswati dalam ajaran Hindu mengandung makna, turunnya ilmu pengetahuan sekaligus sebagai penghormatan terhadap Dewi Pengetahuan yaitu Dewi Saraswati, diperingati setiap enam bulan sekali yang jatuh pada Rahina Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Memperingati hari raya tersebut seluruh umat Hindu dari berbagai komponen dan instansi pendidikan di Kota Denpasar melaksanakan persembahyangan bersama pada Sabtu (8/2/2025) pagi.
Plt. Kepala SMPN 14 Denpasar, Ni Nengah Sujani, pada Jumat (7/2/3025) menyebutkan, segala persiapan telah dilaksanakan serta diadakannya berbagai perlombaan yang diikuti oleh para siswa dalam rangka menyambut hari raya Saraswati. Persiapan yang dilakukan seperti pembersihan dan kelengkapan yang lainnya. Diadakan juga lomba ngelawar, nyate, membuat gebogan, membuat banten pejati dan membuat canang sari.
‘’Kegiatan ini bukan sekadar lomba, tapi bagian dari pelestarian budaya adilihung. Ngelawar dan nyate bukan sekadar memasak, tapi menjaga warisan leluhur, mempererat kebersamaan, serta memupuk rasa tanggungjawab, kerja sama dan rasa hormat terhadap tradisi,’’ kata Sujani.
Dia menekankan, pada zaman milenial ini kita harus jadi orang siap saji. Kalau tidak, kita siap ditinggal dan digilas zaman. Untuk itu perlu disiapkan SDM yang andal dan berkarakter.
Caranya, teruslah mengisi diri dengan ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan melahirkan sebuah kebijaksanaan. Dalam Hakekat kehidupan, dari proses kelahiran sampai kematian harus diisi dengan perbuatan yang baik, jangan agama dipakai label.
Perayaan hari raya Saraswati, kata Sujani, hadir untuk mengedukasi dan membentuk karakter. Jadikan ilmu pengetahuan untuk menjalani kehidupan. Harus cerdas menempatkan diri dalam berkarir dan manfaatkan teknologi dengan baik. Ini menjadi tantangan manusia Bali ke depannya.
Memuja Dewi Saraswati bukan hanya dengan cakupan tangan tapi juga dengan jalan dharma. Siswa diingatkan jadilah agent of change (pelopor agen perubahan) dengan cara meningkatkan kualitas diri.‘’Guru sangat bahagia jika anaknya sukses. Karena itu, siswa harus mencintai guru seperti mencintai orangtua sendiri,’’ pesan Sujani yang juga Ketua MKKS SMP Kota Denpasar ini.
Pada zaman teknologi canggih saat ini, sambung Sujani, manfaatkan teknologi untuk hal positif. Hidup ini adalah proses penebusan. Belajar dengan giat dan isi kehidupan dengan hal positif. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
‘’Ilmu pengetahuan juga bisa membuat celaka kalau salah menggunakannya. Karenanya, manusia yang sudah dibekali otak mampu menjadikan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan bersama,’’ ujarnya menandaskan. tra