PSN Korda Badung Kupas Makna Banten Galungan dan Kuningan

  • Whatsapp
PINANDITA I Nyoman Sukendra, saat melaporkan kegiatan sarasehan PSN Korda Kabupaten Badung. Foto: tra
PINANDITA I Nyoman Sukendra, saat melaporkan kegiatan sarasehan PSN Korda Kabupaten Badung. Foto: tra

DENPASAR – Di era milenial saat ini menjadi inspirasi dan aspirasi bahwa semua profesi membutuhkan kemampuan untuk dan penguasaan kompetensi yang menjadi dasar dalam pengabdian pada masyarakat ataupun umat. Demikian juga dalam mengemban tugas sebagai pinandita (pemangku) niscaya untuk senantiasa meningkatkan derajat kompetensi tentang kepemangkuan.

Hal itu terungkap pada sarasehan sehari yang diselenggarakan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Kabupaten Badung di kantor PHDI Badung di Lumintang, Sabtu (10/4/2021). Sarasehan mengambil tema “Pemaknaan Banten Galungan dan Kuningan berserta Puja Mantra, Saa dan Sonteng,’’ dibuka Kadis Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gde Eka Sudarwitha, dengan prokes ketat.

Bacaan Lainnya

Sarasehan yang diikuti sekitar 30 pinandita se-Badung, itu menghadirkan narasumber, Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda membawakan materi makna banten Galungan dan Kuningan, kramaning puja, saa, dan puja sonteng; Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul dari Griya Gede Kawi Purna Timbul yang juga Ida Dharma Upapati PHDI Badung membawakan materi Ista Dewata Galungan dan Kuningan serta puja mantra. Pembicara lain, Ketua PHDI Badung, I Gede Rudia Adiputra membawakan materi tujuan dan fungsi banten, serta Ni Nengah Rasmiati dari Kementerian Agama Kabupaten Badung membawakan materi banten Galungan dan Kuningan.

Baca juga :  Jubir: Penambahan Kasus Positif Baru di Indonesia Cenderung Menurun

Ketua PSN Korda Kabupaten Badung, pinandita I Nyoman Sukendra, mengungkapkan, sarasehan ini sangat penting untuk meningkatkan kompetensi pinandita (pemangku) dalam melaksanakan acara upacara ritual dan penguasaan makna banten serta Ista Dewata, khususnya tentang Galungan dan Kuningan. Ia berharap, dari sarasehan ini mampu meningkatkan pemahaman tentang tujuan, fungsi banten, sehingga pinandita melek terhadap penggunaan banten yang bermuara pada ketepatan dan kebenaran secara spritual dan agama Hindu di Bali.

‘’Pada era milenial saat ini, pinandita atau pemangku harus teleb terhadap pemahaman dan pengamalan tiga kerangka dasar agama Hindu, yakni tatwa, susila, dan upakara/upacara (ritual). Ketiga bagian itu harus dikuasai dan dijalankan dengan seimbang, sehingga keharmonisan sebagai tindakan beragama bisa tercapai,’’ lugasnya.

Kadis Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gde Eka Sudarwitha, mengapresiasi pelaksanaan sarasehan yang dilaksanakan PSN Korda Kabupaten Badung ini. Kegiatan ini dinilai sangat pas meningkatkan makna hari raya Galungan dan Kuningan dari sisi tatwa, sastra, dan pelaksanaan lainnya. Diakui selama ini umat terbiasa dengan pelaksanaan berdasarkan dresta dan adat.

Ke depan diharapkan umat dalam memaknai hari raya lebih pada tatwa berdasarkan sastra agama. ‘’Dresta itu baik, adat budaya baik, tetapi jika dibarengi dengan makna yang tepat tentu akan lebih meningkatkan pemahaman dan srada bhakti,’’ lugasnya.

Di sisi lain, Sudarwita, menyampaikan mendukung penuh keberadaan PSN Korda Badung sebagai bagian integral PHDI Kabupaten Badung. Soal kesejahteraan pemangku di Badung, kata Sudarwita, sesuai arahan Bupati Badung ke depan akan menyasar pemangku dadia. ‘’Saat ini masih kepada pemangku khayangan tiga dan mrajapati. Di masa akan datang akan dirancang kesejahteraan untuk pemangku dadia. Itu diawali dengan pendataan dan tata kelola administrasi yang baik, dan mudah-mudahan pandemi ini segera berlalu,’’ ujarnya memungkasi. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.