Rayakan Galungan di Tengah Pandemi, Umat Diharap Lakukan Tapa Brata Yoga Semadhi

  • Whatsapp
Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul. Foto: tra
Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul. Foto: tra

DENPASAR – Hari Suci Galungan dimaknai sebagai kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan) yang jatuh setiap Budha Kliwon Wuku Dunggulan atau tahun ini pada Rabu 14 April 2021. Berikutnya umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan pada 24 April 2021 mendatang.

Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul, di sela-sela menyampaikan materi sarasehan yang diselenggarakan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Kabupaten Badung, Sabtu (10/4/2021) di kantor PHDI Badung di Lumintang, mengungkapkan, rangkaian upacara Galungan dan Kuningan serta maknanya. Disebutkan, beberapa rangkaian hari raya Galungan dimulai dari Sugian artinya adalah penyucian.  

Bacaan Lainnya

Pertama; ada Sugian Penenten artinya mengingatkan kepada umat bahwa hari raya Galungan sudah dekat. Disanalah umat mulai melakukan penyucian terhadap bangunan suci atau sarana upakara. Kedua; Sugian Jawa yaitu penyucian bhuana agung atau alam semesta. Ketiga; Sugian Bali memiliki makna menyucikan diri sendiri.

Setelah Sugian, hari berikutnya adalah Penyekeban. Penyekeban, kata Ida Pandita, artinya mengendalikan semua indriya dari pengaruh negatif, karena hari itu Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan hari Galungan.

Baca juga :  Dua Pekan TC SEA Games, Shin: Semua Pemain Tunjukkan Perkembangan Positif

Pada Senin Pon Dungulan disebut penyajan. Saat penyajan, sebut Ida Pandita, umat sangat tepat mengadakan tapa yoga samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. Memilah kemudian memilih mana yang benar dan salah.

Pada Selasa Wage Dungulan disebut penampahan atau tepat sehari sebelum hari raya Galungan. Pada saat penampahan, manusia melakukan pertempuran melawan adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yakni mebyakala.

Tiba saat hari raya Galungan, pada Rabu Kliwon Dungulan, merupakan hari kemenangan dharma melawan adharma. Ini merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup.

Keesokan harinya, disebut Manis Galungan. Setelah merayakan kemenangan, umat merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara mesimakrama dengan penuh keceriaan.  

Namun di masa pandemi Covid-19 ini, Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul yang juga Ida Dharma Upapati PHDI Badung, meminta umat melaksanakan Tapa Brata Yoga Semadhi.  Ida Pedanda menyebutkan, tapa itu adalah bentuk pengendalian diri. Di masa pandemi saat ini, tapa dapat diartikan pengendalian diri untuk tidak keluar rumah. Brata artinya mengendalikan diri untuk tidak bermewah-mewah, makan kesana, makan kesini atau mengadakan pesta. ‘’Dengan brata kita tahu mana yang boleh, mana yang tidak,’’ tegas Ida Pedanda.

Kemudian, yoga dijelaskan Ida Pedanda, umat melakukan perilaku yang sesuai petunjuk Ida Sang Hyang Widhi. Juga termasuk melaksanakan aturan yang dikeluarkan oleh guru wisesa (pemerintah) dan selalu ingat Pesan Ibu yakni memakai masker dengan benar, menjaga jarak dan hindari kerumunan serta mencuci tangan pakai sabun dengan rutin.

Baca juga :  Lidartawan: Solid Berarti Semua Belajar

Terakhir adalah semadhi. Di masa pandemi ini, wajib selalu konsentrasi terhadap hal-hal bisa menyebabkan kita terpapar virus Corona. ‘’Sehingga, tapa brata yoga semadhi ini bukan hanya menjelang Galungan saja kita laksanakan, tapi terus berlanjut guna mencegah Covid-19,’’ pinta Ida Pedanda. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.