Pernak-pernik Penjor Sepi Pembeli

  • Whatsapp
PENJUALAN sarana upakara di Bangli relatif masih sepi. Kondisi ini membuat omzet para pedagang menurun hingga 60 persen. foto: gia

BANGLI – Meski Hari Raya Galungan tinggal sehari, tapi penjualan sarana upakara di Bangli relatif masih sepi. Kondisi ini membuat omzet para pedagang menurun hingga 60 persen. Senin (12/4/2021), beberapa pedagang kelengkapan upakara mengaku masih belum begitu ramai, tidak seperti pada Galungan dua tahun sebelumnya.

Pedagang alat-alat upakara dan pernak-pernik hiasan penjor, IB Janar Dana, di Banjar Gunaksa, Bangli mengatakan, sepinya pembeli kemungkinan ada beberapa sebab. Misalnya membuka usaha yang sama, membuat sendiri, atau karena kondisi krisis ekonomi sebagai dampak Covid-19 yang belum reda.

Bacaan Lainnya

”Biasanya seminggu sebelum Galungan mulai ramai membeli pernak-pernik hiasan penjor, ini baru beberapa hiasan penjor yang laku. Mungkin menganggap gampang untuk mencari, karena tempat usaha seperti ini mulai menjamur,” kisahnya.

Hal senada disampaikan pedagang penjor, Kadek Suardana, asal Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Bangli. Biasanya seminggu sebelum Galungan sudah ramai memesan penjor jadi. Selain kelengkapan sarana penjor, biasanya pesanan makin banyak menjelang tiga hari sebelum Galungan.

Dia berujar bahan baku didatangkan dari Bangli dan Gianyar, dan khusus padi didatangkan dari Tabanan. “Khusus untuk bambu, kami datangkan dari Desa Penglipuran dan Kayubihi yang sudah langganan setiap enam bulan,“ katanya.

Baca juga :  Menpora Bicara Cabor PON 2020 Papua

Harga satu penjor, kata dia, bergantung besar dan kecilnya ukuran serta pernak-pernik yang digunakan. Untuk harga penjor biasa atau sederhana masih tetap Rp300 ribu. “Ada juga lebih mahal, harga relatif bergantung asesoris. Bisa satu penjor sampai 3 juta,” tandasnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.