Peran Kartini di Tengah Pandemi, Ini Kata Sari Galung

  • Whatsapp
Ni Wayan Sari Galung
Ni Wayan Sari Galung

SETIAP tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini yang merupakan hari bangkitnya emansipasi perempuan. Kini, di tengah pandemi Covid-19, kaum perempuan turut berperan aktif untuk mencegah penyebaran virus ini. Terutama yang bekerja sebagai tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19 ini. Di tingkat rumah tangga, perempuan juga dituntut lebih kreatif dan cerdas mengatur kebutuhan rumah tangga. “Sebab, dampak Covid-19 ini juga menyebabkan perekonomian turun drastis akibat penerapan distansi sosial dan fisik,” kata tokoh masyarakat asal Sesetan, Ni Wayan Sari Galung, Senin (20/4/2020).

Dia menuturkan, perekonomian Bali turun akibat sepinya pariwisata. Kunjungan wisatawan saat ini bahkan tidak ada. di sisi lain, sedikitnya 70 persen perekonomian Bali mengandalkan sektor pariwisata. Akibat dampak Covid-19, banyak masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata hanya digaji setengah atau dirumahkan.

Bacaan Lainnya

Selain mengisi bidang pekerjaan di banyak sektor, kaum perempuan Bali saat ini banyak menjadi pendorong ekonomi rumah tangga maupun keluarga besar. Ketangguhan itu teruji bukan hanya saat terjadi wabah Covid-19 seperti sekarang. Dalam keseharian, kata dia, perempuan di Bali juga banyak mengisi posisi penting sebagai pekerja yang mendapat upah. “Pada era kesetaraan gender sekarang, mereka juga bekerja hingga luar negeri sebagai pahlawan devisa,” sebut anggota Komisi IV DPRD Bali tersebut.

Baca juga :  Tamba Libatkan Masyarakat Bersihkan Sungai Loloan

Menurut Sari Galung, kiprah perempuan Bali saat ini tidak bisa dianggap sebelah mata. Dia mencontohkan, sebagai pekerja di luar negeri, perempuan Bali membawa dolar ke Tanah Air. Keadaan itu secara tidak langsung membuktikan perempuan menggerakkan ekonomi Bali di tengah kelesuan saat ini terjadi. “Kalau disebut Kartini era modern, iya, para perempuan saat ini memiliki banyak peluang untuk bekerja. Bahkan pekerjaan yang dulu hanya dilakukan kaum pria, sekarang banyak diisi perempuan,” tegasnya.

Sari Galung juga menyinggung soal pekerja medis yang dominan perempuan. Seperti diketahui, di Bali cukup banyak lembaga pendidikan keperawatan atau pekerja medis lainnya, yang menyalurkan sumber daya manusia siap pakai ke rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lain. Saat ini, sambungnya, tenaga perawat itu banyak berada di garda terdepan dalam menangani langsung pasien Covid-19. “Mereka bukan saja sebagai pahlawan ekonomi, tapi juga pahlawan kemanusiaan. Tugas itu harus mendapat apresiasi tinggi, bukan malah penolakan ketika kembali ke masyarakat,” sesalnya. 

Dalam pandangannya, gerakan feminisme saat ini terjadi di mana-mana. Di sisi lain, perempuan juga memiliki tugas kodrati seperti melahirkan, menyusui dan merawat anak. Namun, sambungnya, kodrat yang melekat pada diri perempuan tetap dilakoni. “Sementara perempuan juga berada untuk tugas mencari penghidupan dan karir,” sebutnya menandaskan. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.