Pengalaman Adalah Guru/Dosen Terbaik

  • Whatsapp

Oleh: Mr. Joger

(Untuk orang yang masih suka belajar) 

Bacaan Lainnya

JANGANKAN kita yang orang Indonesia, bahkan orang Inggris maupun orang-orang berbahasa Inggris pun punya pepatah, “Experience is the best teacher”. Ya, penulis juga sangat setuju pada pepatah kita yang berbunyi, “Pengalaman adalah guru maupun dosen yang terbaik”, terutama karena “pengalaman” lah guru maupun dosen yang tidak pernah memberi “PR” atau “Pekerjaan Rumah”, he..he..he.¬†

Kalau ada wartawan maupun bukan wartawan bertanya, apakah benar penulis (Pak Joger) tidak mau kaya? Jawaban penulis hampir selalu “Ya, saya memang tidak mau atau tidak ingin kaya”. Tapi ketika mereka bertanya apakah penulis mau atau ingin miskin, karena tidak mau dan tidak ingin kaya? Maka penulis pun akan menjawab, “Maaf, Anda ini aneh, kaya saja saya tidak mau dan tidak ingin, apalagi miskin?!?”. Lalu apa, sih hubungan atau relevansi antara pepatah “Pengalaman adalah guru maupun dosen yang terbaik” dengan “ketidakmauan” penulis untuk jadi kaya dan/atau apalagi jadi miskin? Oke, dalam kesempatan yang sempit ini, perkenankanlah penulis menyampaikan pengalaman penulis sehubungan dengan keadaan kaya dan keadaan miskin.

Setelah diperkenankan tetap hidup lebih dari setengah abad, dari begitu banyak pengalaman yang sudah penulis sempat alami, beranilah penulis bersaksi bahwa banyak sekali orang yang karena sudah begitu rajin dan serius bekerja, berjuang, maupun berhemat agar bisa dan boleh menjadi orang kaya, lalu mereka pun benar-benar berhasil menjadi orang-orang yang sangat kaya, tapi sayang, sebagian besar dari mereka yang sudah berhasil jadi orang kaya, ternyata hidup mereka pun jadi terasa hampa dan/atau tidak bahagia, begitu pula sebaliknya, orang-orang yang tidak berhasil jadi orang kaya, tapi malah miskin, ternyata hidup mereka juga tidak bahagia. Lalu, penulis pun cepat-cepat merancang pertanyaan beserta jawabannya yang antara lain berbunyi, “Apa gunanya kaya, kalau ternyata hidup kita tidak bahagia? walaupun mungkin bisa lebih tidak berguna lagi, kalau setelah miskin pun, ternyata hidup kita tidak bahagia juga?”.

Dan justru karena belajar dari pengalaman hidup penulis sendiri yang memang sudah pernah miskin dan juga pernah kaya lah penulis berani mengambil keputusan bahwa kaya dan/atau apalagi miskin, bukanlah tujuan hidup yang layak kita inginkan dan/atau apalagi jadikan tujuan hidup kita bersama, dan mumpung masih belum ada undang-undang maupun aturan yang melarangnya, marilah kita ramai-ramai jadikan “kebahagiaan hidup bersama yang benar-benar berkeadilan” sebagai tujuan utama kita bersama, apalagi sesuai dengan berbagai macam pengalaman yang  sudah penulis alami selama lebih dari setengah abad ini, ternyata hampir semua orang yang sudah benar-benar bahagia, biasanya pasti juga benar-benar kaya alias punya kehidupan yang benar-benar sehat secara holistis (sehat secara kejiwaan, raga, pikiran, perasaan, pergaulan, komunikasi, maupun “kantong”), tapi sebaliknya, banyak sekali orang yang sudah terlanjur kaya harta dengan menghalalkan segala cara, malah hampir semua hidup mereka malah susah, kacau, bingung, hampa, dan/atau tidak bahagia.

Baca juga :  Jangan Saling Menyalahkan!

Makanya, kalau bisa, janganlah menghalalkan segala cara dalam mencari, mengelola, maupun mendistribusikan kekayaan kita, tapi dengan berbekal “iktikad” (niat baik yang benar-benar baik) marilah kita halalkan segala cara yang benar-benar baik, jujur, halal, legal, sehat wajar, optimal, dan membahagiakan hidup kita bersama saja, dan pelaksanaannya pun juga harus secara benar-benar baik, jujur, berkeadilan, dan berkesinambungan! Lalu, marilah kita belajar dari berbagai pengalaman kita sendiri maupun pengalaman orang lain, pihak lain, bangsa lain, dan/atau bahkan makhluk lain, karena walaupun belajar dari pengalaman diri kita sendiri memang sangat bagus, tapi ternyata  tidak semua pengalaman benar-benar pantas, perlu, dan harus kita alami sendiri. Contohnya: Pengalaman buruk terjun dari tingkat 13 sebuah gedung, hanya karena kita ragu apakah benar angka 13 itu sial, he..he..he. Contoh kedua: Hanya karena kurang percaya bahwa berjudi itu bisa membawa malapetaka, lalu kita tetap saja merasa wajib untuk mengalami sendiri betapa buruknya malapetaka yang muncul setelah mempertaruhkan seluruh harta berserta tabungan kita di meja judi. Contoh ketiga: Walaupun sudah sering mendengar maupun melihat langsung betapa buruknya nasib mereka yang korup, tapi kita tetap saja merasa wajib untuk mengalami sendiri betapa buruknya tertangkap tangan oleh KPK. Sebenarnya, sih ada banyak sekali contoh “guru terbaik” yang tidak perlu harus benar-benar kita alami sendiri. Makanya dengan berbekal “iktikad”, marilah kita belajar dari semua “pengalaman yang ada maupun terasa ada” di dunia fana ini! Janganlah batasi diri kita untuk hanya mau belajar dari pengalaman kita sendiri saja! Setuju? Terima kasih!

Baca juga :  Menjual Mimpi Era Emas Winasa di Pilkada Jembrana

JOGER, KUTA, BALINESIA, 11032021, SUBUH 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.