Oleh Made Nariana
GUBERNUR Bali Wayan Koster, bulan September 2023 ini akan mengakhiri masa jabatan lima tahun sebagai Gubernur Bali. Dalam masa jabatan lima tahun, ia berhasil membangun dan menata Bali lebih baik dari sebelumnya. Banyak proyek monumental diselesaikan, sekali pun dunia termasuk Bali dilanda Covid-19 selama dua tahun labih. Banyak yang mengakui keberhasilan itu, termasuk Gubernur sebelumnya I Made Mangku Pastika sendiri.
Selama Covid-19 yang sejatinya dirasakan Bali selama tiga tahun, berbagai program pemerintah menjadi mandeg. Bahkan pertumbuhan ekonomi Bali minus 9 persen lebih. Tetapi Gubernur Koster dapat menuntaskan sejumlah visinya dengan baik. Contohnya: penataan kawasa suci Pura Besakih. Pembangunan dermaga segitiga emas – Sanur-Nusa Ceningan-Nusa Penida. Melanjutkan proyek shortcut Mengwi-Singaraja.
Selanjutnya mulai dibangunnya Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi, pembangunan Tower tertinggi di Buleleng, guna meniadakan blankspot di Bali Utara. Selain itu, banyak proyek lain seperti mulainya Pembangunan Pusat Kebudayaan Klungkung, peningkatan Lapangan Sepakbola Dipta di Gianyar dan pembangunan Pasar Sukawati.
Satu hal yang menjadi kebanggaan juga adalah melakukan pembinaan terhadap Desa Adat di Bali dengan membentuk Dinas tersendiri yang khusus mengurus desa adat itu. Konon, kalau Koster dipercaya lagi sebagai Gubernur Bali jabatan kedua, ia akan merintis jalan Kereta Api, dan membangun GOR di Bangli.
Jumat (28/7/2923) malam, Guberur Wayan Koster meluncurkan Haluan Pembangunan Bali 100 tahun ke depan di hadapan masyarakat Bali dari berbagai kalangan. Semua kalangan dari paling top sampai Bendesa Adat se- Bali diundang ikut hadir dalam peluncuran Haluan Pembangunan Bali 100 tahun ke depan yakni antara tahun 2025-2125.
Intinya Haluan Pembangunan Bali 100 tahun tersebut, mengandung bagaimana Bali harus dibangun sehingga 100 tahun ke depan Bali dapat mengikuti zaman tanpa meninggalkan tradiisi, adat, budaya dan agama yang ada di Bali.
Secara substansi, pembangunan Bali untuk 100 tahun ke depan mengandung semangat ideologis – kultural – relegius dan nasionalis. Semangat ini benar-benar sangat fundamental dengan memperhatikan Bali zaman dulu, Bali zaman kini dan Bali di masa depan.
Haluan Pembangunan Bali 100 tahun tersebut sudah dijadikan Peraturan Daerah, sehingga siapa pun memimpin Bali dalam jangka waktu itu sepatutnya melaksanakan Perda tersebut. Bali dalam 100 tahun kelak, idealnya adalah menuju ”Bali Padma Bhuwana”.
Ada tiga ciri Bali Padma Bhuwana itu yakni: Pertama; Bhuwana Paraga, di mana setiap individu/kelompok masyarakat Bali memiliki jiwa dan semangat global. Kedua; Bhuwana Desa, di mana Desa sebagai lokus selalu aktual dan memiliki prestasi. Dan ketiga; Bhuwana Citta, yang tujuannya, Bali selalu menjadi inspirasi serta dapat menginspirasi dunia.
Sungguh sangat luar biasa apa yang ingin ditata dan dibangun Bali dalam 100 tahun ke depan. Tentunya pembangunan itu mencakup dua sektor penting yakni pembangunan bidang niskala dan pembangunan skala. Pembangunan rohani mental, spiritual-relegius dan pembangunan fisik (sarana,prasarana sebagai penunjang).
Peluncuran Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Jumat malam di Taman Budaya Denpasar itu, sebagai bentuk sosialisasi menyeluruh bagi masyarakat Bali. Astungkara sukses dan berhasil. Sebab Gubernur Koster mengatakan, Haluan 100 Tahun Pembangunan Bali itu merupakan tugas dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarno Putri yang sejak lahir sudah mencintai Bali. Beliau ingin Bali jangan rusak akibat dampak dari berbagai perkembangan global. (*)
























