POSMERDEKA.COM, DENPASAR – DPRD Denpasar memanggil Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Disdikpora Denpasar untuk mendengar penjelasan tentang pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) karena program tersebut belum berjalan optimal hingga saat ini. Dewan mempertanyakan standar gizi MBG yang diberikan serta hasil evaluasi dari pemberian pelaksanaan MBG, mengingat tujuan program ini adalah untuk perbaikan gizi anak-anak. Selain itu kondisi status gizi anak di Denpasar cukup baik.
“Dari paparan BGN, jauh dari harapan masyarakat kita di Denpasar karena program ini terputus-putus. Sesuai tujuan MBG, apakah MBG ini bisa meningkatkan atau tidak. Kajian standar gizi sangat penting, bagaimana kondisi awal anak di sekolah itu, kemudian setelah diberikan MBG bagaimana peningkatannya. Kalau tidak melakukan itu, mubazir karena kita mengetahui masyarakat Denpasar status gizinya menengah ke atas,” beber Wakil Ketua Komisi I DPRD Denpasar Eko Supriadi, Selasa (29/4/2025)
Untuk itu, ia ingin melihat kajian tim BGN terkait status gizi anak yang akan mendapat MBG dan standar gizi makanannya. Selain itu, ia juga mempertanyakan dasar dari pemberian MBG tahap awal ke SMPN 1 dan SMPN 6 Denpasar.
Anggota Komisi IV DPRD Denpasar, Ni Luh Gede Ernawati, berharap BGN melibatkan pemerintah desa dalam perekrutan relawan. Mengingat ada Permendes yang memungkin desa mendukung program MBG melalui BUMDes.
Anggota DPRD Denpasar Komisi IV Ketut Sudana mengatakan, dari total 173.414 siswa yang ada di Denpasar, baru ditangani dua dapur yaitu yang ada di Densel dan Dentim menurutnya tidak ideal, padahal idealnya minimal ada 47 dapur. Ia juga menyampaikan agar ada leader atau leading sektor program ini di daerah agar dapat terus menggerakkan program ini hingga sukses.
Ketua Komisi IV DPRD Denpasar, I Wayan Duaja, berharap ada kolaborasi desa dan BGN dan mempunyai peran yang jelas. Untuk permasalahan-permasalahan yang muncul dari pelaksanaan MBG, ia berharap Disdikpora membuat posko pengaduan masyarakat agar pelaksanaan MBG di Denpasar berhasil.
Sekretaris Dinas Disdikpora, I Ketur Dirga; didampingi Kabid Pembinaan SMP Disdikpora Denpasar, A.A. Putu Gede Astara, mengatakan, sementara saat ini program baru berjalan di dua sekolah yaitu SMPN 1 dan 6 Denpasar. Setelah Kuningan pelaksanaan program akan mengarah ke SMPN 8 Denpasar. Total siswa TK, SD, SMP penerima manfaat yaitu 173.414.
Dengan jumlah tersebut, idealnya ada 46-47 dapur di Denpasar karena di satu SPPG atau dapur dapat melayani 3.500 siswa. Sementara saat ini baru ada 4 dapur, itupun di dua kecamatan sedangkan di Denbar dan Denut belum ada dapur.
“Di aturan kerja mereka, setiap tempat akan mendapat manfaat, maka harus berkoordinasi dengan pemerintahan desa. Nanti dari pemdes akan mendaftarkan relawannya yang mau. Seperti di Kesiman kemarin katanya tidak ada relawan yang mendaftar padahal digaji Rp90 ribu-Rp100 ribu per hari, sementara ukuran di Denpasar sangat minim, minimal Rp200ribu, mungkin baru ada yang tertarik,” tandasnya.
Kepala dapur atau SPPG Dentim, Ni Wayan Risnawati, bersama kepala dapur yang lain mengatakan, telah ada perhitungan gizi dari makanan yang disajikan. Selain itu juga higienitas dan keamanan pangan juga telah diawasi oleh tim gizi yang ada di dapur.
Koordinasi dengan pemdes terkait dengan relawan juga sudah dikomunikasikan. Maka dari itu dalam waktu seminggu ke depan pihaknya akan memberikan juklak dan juknis atas pertanyaan – pertanyaan dari para dewan saat itu.
Ia juga menyampaikan terkait kebutuhan relawan saat ini karena di dapur Dentim saat ini baru ada 24 tenaga, sedangkan kebutuhannya 45 orang untuk menyiapkan makanan untuk 3.500-an orang. “Nantinya tanggal 9 Mei, seiring dengan bertambahnya penerima manfaat, tenaga yang dibutuhkan pasti akan bertambah,” ujarnya. tra
























