Panah Raksasa Cakra Baskara, Karya Instalasi Lawan Covid-19 di Pantai Legian

  • Whatsapp
INSTALASI panah Cakra Baskara yang berdiri di depan area pemelastian Pantai Desa Adat Legian. Foto: gay
INSTALASI panah Cakra Baskara yang berdiri di depan area pemelastian Pantai Desa Adat Legian. Foto: gay

MANGUPURA – Sebuah panah berukuran raksasa berdiri tegak di depan area pemelastian Pantai Legian, Rabu (30/9/2020). Karya instalasi yang diinisiasi seniman Desa Adat Legian itu memiliki tinggi busur sekitar 11 meter dan panjang anak panah 12 meter. Hal tersebut menjadi spot daya tarik baru di pantai Legian, terlebih bahan yang dipergunakan relatif ramah lingkungan.

Selaku kreator dari instalasi tersebut, AA Made Oka Pariana menerangkan bahwa karya tersebut merupakan ide spontan yang terealisasi atas dorongan para tokoh Desa Adat Legian. Hal itu merupakan bentuk upaya yang dilakukan pihaknya selaku seniman, dalam menyikapi fenomena yang terjadi saat ini.

Bacaan Lainnya

Karya tersebut merupakan wujud representasi seni atas kondisi pandemi Covid-19, dengan maksud memohon secara niskala kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa agar Covid-19 bisa segera lenyap dari muka bumi. ‘’Selaku seniman, kami terdorong untuk melakukan sesuatu dalam menyikapi fenomena saat ini. Apa yang bisa kami perbuat, tentu memvisualisasikannya dalam bentuk instalasi ini. Ini merupakan gambar visual doa permohonan kepada tuhan yang kita ambil dari cerita Salya Parwa,’’ terang mantan Ketua LPM Legian ini.

Baca juga :  Haruskah Bayi Pakai Masker Kain untuk Hindari Covid-19?

Dipaparkannya, karya instalasi yang mengambil ide dari Asta Dasa Parwa, khususnya parwa kesembilan atau Salya Parwa itu menggambarkan senjata Cakra Baskara yang diarahkan ke tanah. Dimana senjata yang dibentangkan Prabu Dharma Wanga (Yudistira) itu bertujuan untuk memusnahkan raksasa kecil yang mampu membelah diri dan keluar dari senjata Candra Birawa Prabu Salya. Dimana saat itu Prabu Salya merupakan panglima perang dari Kurawa yang menggantikan pangeran Karna yang gugur dalam peperangan Bharatayuda.

Dalam kaitan Covid-19 saat ini, kisah tersebut dinilainya mampu merepresentasikan kondisi yang terjadi saat ini. Dimana panah bermata cakra Dharma Wangsa itu merupakan wujud dari vaksin tempur Covid-19 yang melawan senjata Candra Birawa Prabu Salya yang menggambarkan realita dari senjata biologis saat ini dan mahluk kecil berupa raksasa itu adalah gambaran dari hasil rekayasa genetika sebagai senjata biologis yang sangat mematikan.

Tancapan panah Cakra Baskara di Pantai Legian itu adalah untuk memohon doa restu kepada Ibu Pertiwi, untuk nyomia dan mengembalikan mahluk penyebab wabah ke pertiwi. ‘’Jadi kisah Prabu Salya itu kami nilai sangat cocok untuk menggambarkan situasi saat ini dan ada kemiripannya. Melalui visual ini kita memohon kepada tuhan dengan simbol Cakra Baskara, agar tuhan kembali memusnahkan virus Covid-19 sehingga umat manusia bisa terbebas dari virus tersebut,’’ paparnya didampingi Made Kona selaku pembuat konstruksi instalasi tersebut.

Baca juga :  Penambahan Kasus Covid-19 Nasional: Positif 1.082, Meninggal 51, Sembuh 864 Orang

Untuk membuatan instalasi tersebut pihaknya membutuhkan waktu selama 6 hari sejak ide diperoleh. Sebenarnya waktu pengerjaan tersebut diakuinya cukup memakan waktu lama, namun karena pengerjaan itu dilakukan secara maraton, maka instalasi tersebut rampung dikerjakan Selasa (29/9/2020) malam. Pendirian instalasi tersebut dilakukan Selasa sore hingga jam 12 malam.

Pada Kamis (1/10/2020) instalasi tersebut akan di upacarai secara Hindu, dengan menghanturkan banten pejati dan dilakukan prosesi pembersihan secara niskala. ‘’Jadi ini bukan hanya dipasang begitu saja, tapi ini merupakan bentuk permohonan doa secara niskala kepada tuhan. Karena itulah ini akan diupacarai besok bertepatan dengan Purnama. Desa adat Legian juga akan ada upacara neduh disini. Jadi konsepnya nyambug, karena upacara neduh itu untuk memohon keteduhan kepada tuhan,’’ ungkapnya sembari menerangkan lokasi pendirian instalasi tersebut dipilih karena merupakan tempat yang disakralkan dan titik sentral di pantai Legian.

Diakuinya, pendirian instalasi tersebut memang memiliki tantangan dalam pengerjaannya. Sebab lokasinya merupakan pantai yang memiliki tiupan angin kencang dan udaranya cukup lembab karena memgandung air garam.

Pihaknya berharap instalasi tersebut bisa bertahan cukup lama, minimal mampu bertahan selama 2 hari ke depan. Biaya pembuatannya sendiri diakuinya berasal dari swadaya, yang diperkirakan mencapai Rp6 juta. Untuk mendirikannya, ia mengaku dibantu oleh sekitar 10 orang warga Legian. 023

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.