Ohh Cabai, Harganya Moroket 200 Persen

KEPALA Bidang Perdagangan Diskoperindag UMKM KLU, Edi Jufrin. Foto: fik
KEPALA Bidang Perdagangan Diskoperindag UMKM KLU, Edi Jufrin. Foto: fik

KLU – Kenaikan harga komoditi cabai di pasar mulai dirasakan masyarakat. Kondisi itu dirasakan terutama para pedagang warung. Lonjakan harga cabai tidak hanya terjadi di Kabupaten Lombok Utara (KLU), melainkan hampir semua daerah. Harga cabai naik 200 persen sejak dua pekan terakhir.

‘’Survei data harga khusus cabai dua pekan terakhir mengalami kenaikan. Yang sebelumnya hanya berkisar di harga Rp27 ribu kini menjacapai Rp77.500 hingga Rp80 ribu,” ulas Kepala Bidang Perdagangan Diskoperindag UMKM KLU, Edi Jufrin, Senin (25/1/2021).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, lonjakan harga itu terjadi sejak hujan yang terus terjadi sejak akhir 2020 lalu. Berdasarkan hasil survei sementara, kenaikan harga diduga akibat pasokan yang kurang. Terutama pasokan dari Lombok sendiri. Stok yang sedikit, kata dia, perlu mendatangkan cabai dari luar daerah.

“Data per 13 Januari lalu terjadi lonjakan harga cabai menjadi Rp77.500 per kilogram dari sebelumnya Rp27.500 (Data Desember 2020). Kenaikannya sebesar Rp50.000 atau 181,2 persen,” sebutnya, sembari mengatakan kenaikan harga cabai ini sangat fantasitis.

Edi mendaku telah berkoordinasi dengan Diskoperindag Provinsi NTB untuk menanggulangi fenomena kenaikan harga cabai yang sangat tinggi itu. Setidaknya untuk menekan harga di pasaran. ‘’Untuk pengawasan barang beredar merupakan kewenangan Pemprov NTB,’’ lugasnya.

Ditanya penyebab spesifik kenaikan harga cabai ini, Edi menyebut masih dicari. Untuk solusi jangka pendek, sambung dia, akan bekerjasama, atau meminta ke  provinsi untuk mengadakan pasar murah cabai.

Kondisi ini mulai dikeluhkan banyak pembeli, khususnya pedagang warung. Salah satu pedagang warung di Lapangan Tanjung, Mpok Ayu, mengatakan, kenaikan harga cabai cukup menggila pekan ini. Harga per kilogram cabai mencapai Rp90 ribu, bahkan ada yang Rp100 ribu. ‘’Padahal dua pekan lalu masih Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram,’’ katanya.

Ia berharap Pemda melakukan upaya menekan harga cabai tersebut. Kondisi ini sangat berpengaruh pada jualan para pedagang. Keluhan yang sama juga diutarakan ibu rumah tangga di KLU, Junari. Ia mendaku cukup kesulitan dengan kenaikan harga cabai terlalu tinggi ini. Ia harus berhemat dalam penggunaan cabai. ‘’Kita beli Rp5.000 sedikit diberikan, itu pun dicampur dengan cabai masih hijau,’’ bebernya. fik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses