MANGUPURA – Selain suara dentuman yang jelas didengar masyarakat Buleleng pada Minggu (24/1/2021) siang, sekitar pukul 10.27 Wita, warga juga melihat ada jejak cahaya di langit. Sampai saat ini, masyarakat setempat masih bertanya-tanya apa penyebab kejadian tersebut. Sebab tidak ada informasi maupun kejadian yang diperkirakan menjadi pemicu peristiwa tersebut.
Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Iman Fatchurochman, dikonfirmasi Senin (25/1/2021) menerangkan, di BMKG hanya bisa mengecek kejadian itu berdasarkan dari data getaran yang terjadi pada jam tersebut. Pada pukul 10.27 Wita sensor gempa di Stasiun BMKG di Singaraja mendeteksi adanya anomali getaran selama sekitar 20 detik mulai pukul 10.27 Wita.
Berdasarkan rekaman tersebut, pihaknya menduga getaran itu berasal dari dentuman yang terjadi. Namun belum bisa memastikan apakah dentuman itu berasal dari exsplosion (ledakan) atau tumbukan benda yang jatuh ke bumi. ‘’Yang jelas dari karakteristik sinyal dari sentra tersebut, itu bukan berasal dari gempa bumi. Tidak ada catatan gempa yang terjadi pada waktu tersebut, tapi memang ada tercatat data getaran,’’ katanya.
Ia menjelaskan pusat getaran tak terdeteksi alat sensor. Namun sensor alat di Singaraja mencatat getaran itu terjadi sekitar 4-10 detik. Dari karakteristik sinyalnya, dominan itu dari gelombang permukaan atau dekat dengan permukaan (sumbernya ada di lokasi dangkal).
Dari pengukuran yang dilakukan, getaran tersebut memiliki intensitas 1,1 magnitudo atau relatif berkekuatan rendah. ‘’Kalau magnitudo 1 itu sumber gempa relatif kecil. Tapi kalau itu berasal ledakan di permukaan atau tumbukan benda dipermukaan bisa jadi karena gelombang kejut yang ditimbulkan. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa ditanyakan kepada Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa),’’ pintanya.
Terpisah, Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) dalam rilisnya menerangkan dari sistem pemantauan orbit.sains.lapan.go.id tidak menunjukkan adanya benda artifisial atau sampah antariksa yang diperkirakan melintas rendah atau jatuh di wilayah Indonesia. Hal tersebut memperbesar kemungkinan kejadian yang teramati di Buleleng berkaitan dengan benda alamiah seperti meteor.
Menurut Astronom sekaligus Peneliti Madya Lapan, Dr. Rhorom Priyatikanto, meteor berukuran besar atau dikenal juga sebagai bolide atau fireball memungkinkan masuk ke atmosfer, terbakar, dan jatuh di dekat Buleleng.
Dalam prosesnya, meteor tersebut dapat memicu gelombang kejut hingga suara dentuman yang bahkan terdeteksi oleh sensor gempa. Sebagian besar meteor kondisinya terbakar di atmosfer, namun sebagian kecil ada yang tersisa dan jatuh ke permukaan Bumi (darat atau laut).
Fragmentasi meteor besar juga lazim terjadi ketika meteor tersebut mencapai ketinggian sekitar 100 kilometer di atas permukaan Bumi. ‘’Belakangan ini, tidak ada aktivitas hujan meteor, kecuali dengan intensitas amat kecil. Namun, perlu diketahui bahwa pada tahun 2021 ini, sudah ada sekitar 40 ketampakan meteor besar (fireball) di berbagai belahan Bumi,’’ terangnya. gay
























