Nasdem Bali Dinilai Berpeluang Salip Gerindra, PDIP dan Golkar Tetap Teratas di 2024

  • Whatsapp
Dr. Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa. Foto: hen
Dr. Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa. Foto: hen

DENPASAR – Target Partai Nasdem Bali untuk menembus peringkat tiga besar di Bali pada Pemilu 2024 mendatang dinilai sebagai target cukup realistis. Selain pengaruh konstelasi politik nasional, pencapaian target tersebut juga sangat bergantung dari kinerja kader Nasdem, baik yang menjadi legislator maupun tidak pada saat ini. Hal itu juga berarti Nasdem sangat berpeluang menyalip posisi Gerindra. Pandangan itu disampaikan pengamat politik dari Universitas Mahasaraswati Denpasar, Dr. Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa, Jumat (7/5/2021).

“Sebagai suatu target, tentu ingin menjadi peringkat ketiga itu sah-sah saja. Justru yang tidak realistis itu kalau Nasdem ingin menjadi peringkat pertama atau kedua di Bali, karena segmentasi dua peringkat itu hampir pasti direbut PDIP dan Golkar,” urai mantan Ketua KPU Bali tersebut.

Bacaan Lainnya

Dalam kontestasi politik, terangnya, perang yang sesungguhnya adalah bagaimana menggaet hati masyarakat. Namun, kata dia, idealnya adalah bagaimana parpol dapat memperoleh suara politik publik dengan adu gagasan. Jika tidak, ujung-ujungnya tetap saja politik transaksional. Untuk itu, sambungnya, pendidikan politik masyarakat juga sangat diperlukan.

“Misalnya bagaimana cara memilih caleg yang berkualitas, tidak sekadar mereka yang punya modal saja. Artinya, itu tetap bergantung masyarakat kita juga, apakah masih berpikir (pragmatis) seperti sekarang atau tidak? Jika masih, ujungnya tetap saja kapitalisasi politik dan yang terjadi adalah kapitalisme politik,” jelas Dekan Fakultas Hukum Universitas Mahasaraswati tersebut.

Baca juga :  Gaungkan Pengawasan karena Kesadaran, Bukan Mobilisasi, Bawaslu Gencarkan Pengawas Partisipatif

Melihat posisi PDIP yang begitu dominan sejak Pemilu 1999 di Bali, dia berkata porsi yang tersedia untuk direbut Nasdem adalah posisi partai yang tidak berkuasa di eksekutif. Saat ini yang tidak memiliki kader di eksekutif di Bali adalah Gerindra dan Demokrat sebagai parpol di bawah PDIP dan Golkar. “Kalau PDIP jelas punya kekuasaan di eksekutif dan legislatif, sedangkan Demokrat dan Gerindra kan tidak ada. Kemarin Pak Suwirta di Klungkung diusung Gerindra, tapi sekarang kan sudah keluar dan masuk ke PDIP,” ulasnya.

Adanya kemungkinan Nasdem mampu mengejar atau menggeser Gerindra di posisi ketiga di Bali, Lanang mendaku sangat ditentukan oleh sosok caleg dan paslon yang didorong untuk di Pemilu 2024. Misalnya Suwirta yang kini ke PDIP, hal itu dapat mereduksi suara Gerindra dan meningkatkan suara PDIP. Jika itu terjadi, peluang Nasdem menggeser Gerindra jadi lebih besar. “Kalau di Klungkung, ada atau tidak ada Suwirta saya lihat tidak terlalu pengaruh signifikan, karena perolehan PDIP di sana relatif stabil sejak 1999,” tegasnya.

Disinggung mengenai party id (tingkat kedekatan seseorang dengan partai tertentu) di Bali, Lanang kembali menyebut sejauh ini PDIP tetap teratas meski bukan berarti sifatnya statis. Melihat hasil Pemilu sejak 1999 sampai 2019, dia mengakui hegemoni PDIP belum ada lawan sepadan. Hanya, dia mencatat tren PDIP yang cenderung menurun atau relatif bertahan. Bahwa saat Pileg 2019 PDIP mencatat kemenangan terbesar, hal itu tidak lebih sebagai coattail effect (efek ekor jas) dari Pilpres yang menghadirkan Jokowi sebagai jagoan PDIP.

Baca juga :  Suhaili Diisukan Pindah ke PKB, Misbach Menyayangkan Jika Itu Benar

“Saat Pilpres itu kan ada polarisasi di Pilpres antara golongan nasionalis dengan agama. Jika tidak ada polarisasi, saya rasa PDIP juga belum tentu menang sebesar itu di Bali,” imbuhnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.