Mulai Menggeliat, Kuta Masih Sepi Wisman, Begini Kondisinya

KONDISI Pantai Kuta. Meski pariwisata mulai menggeliat, hingga saat ini Kuta masih sepi dari kunjungan wisman. foto: ist

MANGUPURA – Hadirnya tujuh maskapai internasional yang melakukan penerbangan langsung ke Bali menghasilkan lebih dari 8 ribuan wisatawan mancanegara (wisman) kembali datang ke Bali.

Hanya, meski pariwisata mulai menggeliat, hingga saat ini Kuta masih sepi dari kunjungan wisman. Beberapa bule memang mulai lalu-lalang di Kuta, tapi masih sangat jauh jika dibandingkan dengan era sebelum pandemi.

Bacaan Lainnya

“Banyak yang bilang kunjungan wisatawan internasional sudah menggeliat ke Bali, tapi bagi saya menggeliat dari konteks apanya? Sampai saat ini di Kuta belum merasakan dampak tamu bule, masih dihiasi wisatawan domestik,” sebut Ketua LPM Kuta, Putu Adnyana, Selasa (22/3/2022).

Dia tidak memungkiri beberapa kali ada wisman tampak berseliweran di Kuta, tapi kuantitasnya tidak signifikan. Terlebih sangat sulit untuk bisa memastikan apakah bule itu merupakan bule yang baru datang, atau sudah lama tinggal di Bali.

Minimnya kunjungan pelancong asing dapat dilihat dari tingkat hunian hotel di Kuta yang relatif kecil, masih sangat bergantung wisatawan domestik.

Meski Kuta dikenal sebagai rumah kedua dari wisatawan Australia, tapi status itu tidak serta merta membuat Kuta kembali dibanjiri wisatawan Australia. Hal itu diperkirakan karena faktor perkembangan destinasi wisata, sehingga mereka tersebar di wilayah Bali untuk menikmati kondisi alam.

Baca juga :  Ekonomi Bali Alami Kontraksi -10,98 Persen, Koster Apresiasi Penyelenggaraan Naker Tanggap Covid 2020

Apalagi turis Australia cenderung suka surfing. Karena saat ini banyak lokasi surfing, mungkin mereka bergeser ke sana. “Apalagi kondisi pantai Kuta saat ini dilanda abrasi. Semoga Kuta benar bisa segera ditata, sehingga akan kembali menarik kunjungan wisatawan,” harapnya.

Sepinya kunjungan wisman ke Kuta, ulas Adnyana, berpengaruh pada tingkat perekonomian masyarakat. Saat ini hanya sekitar 30 persen usaha di sektor pariwisata yang beroperasi kembali.

Sisanya masih melihat peluang, sehingga terkadang usaha itu hanya buka tiga kali dalam seminggu. Kondisi itu secara tidak langsung juga berdampak pada sektor parkir yang dikelola LPM Kuta bekerjasama dengan Dishub Badung.

Sebelum pandemi, terangnya, pemasukan parkir di Kuta antara Rp40 juta sampai Rp50 juta per bulan yang disetorkan ke Pemkab Badung. Saat pandemi, maksimal hanya Rp6 juta sampai Rp7 juta yang diperoleh dan disetorkan. Meski mulai naik, saat ini nilainya masih antara rentang Rp8 juta s.d. Rp10 juta per bulan. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.