Membangun Hindu Nusantara

  • Whatsapp
Wartawan Senior, Made Nariana

Oleh Made Nariana
Pimpinan Redaksi Harian Pos Bali

TERSERAH siapa yang menjadi pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), tidak terlalu penting bagi umat. Tetapi yang perlu diperhatikan, pimpinan PHDI harus bebas dari sampradaya asing yang tidak mengakui adat, budaya dan tradisi.

Bacaan Lainnya

Membangun dan mengembangkan Hindu Nusantara di Tanah Air dan lebih jujur, iklas serta lascarya membina kepentingan umat di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, SDM berkarakter, dan pelaksanaan agama yang lebih efisien adalah tugas penting lainnya.

Saya berharap perlu dibangun Hindu Nusantara, sebab Hindu bukan hanya ada di Bali. Hindu di Bali oke, mereka sudah menjaga budaya, adat istiadat, tradisi, alam Bali dan leluhurnya. Namun Hindu di luar Bali yang belakangan mulai berkembang harus juga menjaga budaya dan tradisi lokal mereka masing-masing.

Sering saya mendengar, bahwa orang Bali senang mengintervensi upacara Hindu di luar Bali. Misalnya tata upacara dan “bebantenan/sesajennya”, harus sama dengan apa yang dilakukan umat Hindu di Bali. Padahal Hindu dalam melakukan berbagai aktivitas — memiliki ajaran desa, kala, patra (sesuai tempat, waktu dan keadaan). Hindu juga mengenal apa yang disebut dengan pelaksanaan upacara nista (sederhana), madya dan utama.

Baca juga :  Buleleng Berencana Ubah Skema Penanganan Covid-19

Atas ajaran desa, kala dan patra itulah, maka setiap umat Hindu harus mengakui sikap, pikiran, cara umat sedarma di daerah masing-masing. Intinya mereka menyembah Ide Hyang Widi Wasa, percaya dengan leluhur, percaya dengan darma (kebenaran) dan percaya dengan adanya inkarnasi dan moksah. Cara dan tatalaksana, hanya sebuah proses menuju yang satu.

Bali memang sangat terkenal dengan budaya, tradisi, pelaksanaan agama dan keramah-tamahan penduduknya. Tetapi, umat Hindu di Bali, termasuk para pemimpinnya tidak pantas memaksakan “membalikan” daerah lain dalam melaksanakan upacara keagamaan, khususnya Hindu. Biarkan mereka dengan cara sendiri.

Bung Karno mengatakan, “Kalau jadi orang Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi orang Hindu, jangan menjadi orang India. Kalau jadi orang Kristen, jangan menjadi orang Yahudi”.

Banyak pihak memplintir ucapan Bung Karno, seolah-olah beliau anti Arab, anti India atau anti Yahudi. Tidak! Beliau menginginkan, khususnya Hindu tetap menjadi orang Indonesia dengan menghargai budaya, adat dan tradisi lokal (local wisdom) masing-masing. Menjadi orang Nusantara, menjadi nasionalis sejati bagi NKRI, Bhineka Tunggal Ika dengan landasan Pancasila.

Umat Hindu di Bali yang mungkin lebih maju dari segi ekonomi silakan membantu umat sedarma di luar Bali. Bantu mereka membangun tempat suci, bantu mereka dalam mendidik sulinggih dan bantu mereka dalam melaksanakan ajaran agama/darma. Tidak usah mencampuri mereka dalam upakara “tetek bengek”, bagaimana cara membuat celemik, sampian, segehan, penjor, caru, pajegan dan seterus. Apapun dipersembahkan, itulah pengorbanan suci umat.

Baca juga :  Nataru Jangan Timbul Klaster Baru, Gubernur Koster Minta Disiplin Terapkan SE 2021/2020

Saya melihat umat Hindu di India juga menggunakan Daksina (pejati). Tetapi Daksina nya sederhana. Hanya berisi kelapa, telur dan bunga. Sementara umat di Bali lebih dari itu, dibuat sangat seni. Namun maknanya sama.

Tidak mustahil suatu saat Umat Hindu berkembang di Arab. Sementara di Arab tidak ada janur, base, dan dedaunan yang diperlukan dalam sesajen. Ya, pasti cukup melakukan pengorbanan suci dengan roti, air dan api.

PHDI harus mulai mengembangkan tatacara Hindu Nusantara, supaya dirasakan manfaatnya oleh umat se-Indonesia. Kampus-kampus yang bernuansa Hindu di tanah air, juga memiliki peranan penting mengembangkan mahasiswa supaya berjiwa Nusantara. Menjaga tradisi kedaerahan silakan, tetapi utamakan kepentingan nusantara sebab kita memang berbeda sekalipun satu agama.

Tugas berat PHDI kedepan, menjaga Umat Hindu yang kini berkembang di mana-mana, karena mereka kembali ke tradisi leluhurnya. Saya kira semua paham. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.