Memaknai Kontroversi Desak Dharmawati, Perkuat Sekolah Hindu, Getarkan Edukasi Generasi Muda

  • Whatsapp
Ketut Juliarta, Rawan Atmaja, dan Ketut Suryadi. Foto: hen
Ketut Juliarta, Rawan Atmaja, dan Ketut Suryadi. Foto: hen

DENPASAR – Kontroversi akibat video ceramah Ketua Pusat Karir dan Kewirausahaan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Hj. Desak Made Dharmawati, yang menghina umat Hindu di Bali, menghadirkan kesadaran lain. Satu di antaranya yakni signifikansi membangun sekolah berbasis agama Hindu di Bali agar ajaran Hindu dipahami sebagaimana umat agama lain memahami agama mereka. Selain itu, peristiwa ini dapat menjadi pintu masuk untuk kian menggetarkan edukasi generasi muda Hindu di Bali di ranah desa adat atas keyakinan leluhur mereka.

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bali, I Ketut Juliarta, berkata pelbagai agama ada di Bali hidup rukun selama ini. Jangan sampai pemikiran pribadi Desak Dharmawati sebagai akademisi mengusik toleransi di Indonesia. Bagi dia, Desak adalah contoh bagaimana pemahaman agama yang salah dan pendidikan agama Hindu yang kurang. Dua hal itu tak hanya membuat mereka tersesat dalam pemahaman, tapi juga merusak, menghina, dan menghancurkan ajaran luhur Hindu.

Bacaan Lainnya

“Belajar dari peristiwa ini, saya harap Gubernur Bali selain konsisten memperjuangkan eksistensi Bahasa Bali, juga mulai mengembangkan pendidikan agama Hindu. Selama ini perhatian pemerintah untuk pembangunan sekolah-sekolah agama Hindu masih kurang. Bisa kita lihat dari jumlah dan kualitas sekolah agama Hindu di masing-masing kabupaten di Bali,” katanya.

Baca juga :  Pemilih Maksimal 500, Denpasar Tambah 554 TPS Baru

“Bahasa Bali dan agama Hindu perlu bersama-sama diperhatikan. Sebab, tanpa ada agama Hindu di Bali, pelestarian bahasa Bali sulit dilakukan,” imbuhnya.

Terkait aspek pendidikan agama Hindu, anggota Komisi 4 DPRD Bali, Rawan Atmaja, berpendapat pendidikan sekolah Hindu hanya untuk pendidikan formal di sekolah saja. Mencegah adanya pemahaman yang tidak benar umat Hindu di Bali atas ajaran agamanya, dia menyebut yang paling penting adalah bagaimana lingkungan umat itu sendiri.

“Biasakan dari kecil di rumah diberikan sedikit demi sedikit pengenalan dan pemahaman tentang budaya dan adat Bali (yang berakar dari ajaran Hindu) di keluarga. Lingkungan keluarga memegang peranan penting,” seru Ketua Fraksi Golkar tersebut.

Memaknai kasus ini, Rawan mendaku sekarang yang tidak kalah penting adalah bagaimana pemerintah daerah segera tanggap. Hanya, dia tidak merinci bagaimana bentuk tanggap yang dimaksud itu.

Anggota Komisi 4 lainnya, I Ketut Suryadi, juga lebih melihat dengan perspektif lain viralnya video dosen asal Gianyar yang mualaf tersebut. Dia menduga pernyataan Desak akibat dia sendiri masih bingung dengan segala macam ritual agama dan budaya Hindu Bali. Justru karena itu, Boping, sapaan akrabnya, mengajak pengampu kepentingan di Bali membangun kesadaran kolektif untuk lebih membuka ruang edukasi dan penanaman pemahaman kepada segenap umat Hindu.

“Juga di luar umat Hindu bagaimana agama, seni budaya, ritual, adat dan tatanan kehidupan di Bali menjadi satu kesatuan yang utuh dengan segala bingkai ajaran suci Hindu. Itu mesti mengalir taktis, fleksibel, adaptif, toleran dan mengakar menjadi sebuah kebudayaan yang memberi watak dan jati diri Hindu di Bali,” pesan politisi PDIP yang juga budayawan tersebut.

Baca juga :  Sembilan Pasien Covid-19 Sembuh di RSUD Tripat

Selain itu, sambungnya, sudah waktunya di desa adat harus lebih digetarkan ruang edukasi dan pembelajaran terhadap generasi muda kita soal agama. “Termasuk segala hal yang melekat terkait dengan tatanan kehidupan Hindu Bali,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.