Masyarakat, Tidak Ada Alasan Menolak Kedatangan PMI Asal Bali, Mereka Pahlawan Devisa, Tidak Membawa Penyakit

  • Whatsapp
ILUSTRASI: Para Pekerja Migran Indonesia yang bekerja sebagai ABK pesiar asal Kabupaten Badung, memasuki rumah singgah di wilayah Kuta, Rabu (15/4/2020).

MINGGU ini viral berita bahwa, masyarakat Sengkidu, Karangasem menolak warga PMI (Pekerja Migran Indonesia) asal Karangasem. PMI itu adalah Anak Buah Kapal (ABK), yang selama ini menjadi karyawan kapal pesiar asing.

Mereka dipulangkan ke Bali, karena merebaknya wabah Corona (Covid-19). Perusahaannya mandeg akibat tidak ada turis. Layaknya seperti Hotel kita di Bali, kini kosong melompong karena turis (tamu) pada pulang ke negaranya akibat wabah Corona tersebut.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat Sengkidu menolak semetonnya sendiri (PMI) asal Karangasem itu?

Pertama; akibat kurangnya pemahaman mengenai wabah Corona, sehingga masyarakat beranggapan PMI membawa penyakit Corona dari luar negeri. Ini tentu saja tidak benar. Pemahaman seperti ini salah besar, apalagi dituduh membawa penyakit. Kalau toh ada satu-dua yang tertular Corona di perjalanan (atau selama di Kapal Pesiar) – itu bukanlah kehendak mereka. Dan, segera dapat diisolasi untuk mendapat pengobatan. Di sini ada salah informasi kepada masyarakat bawah.

Baca juga :  Gede Dana Serap Aspirasi Warga Zona Merah Covid-19

Kedua; komunikasi sosial aparat biroraksi di bawah kurang baik dengan masyarakat tentang rencana penampungan PMI itu di sebuah Hotel di Sengkidu.

Saya mendengar Camat memberitahu aparatnya melalui telpon, bahwa akan datang sejumlah PMI untuk ditampung di Hotel. Pemberitahuan mendadak tersebut kemudian dilanjutkan aparat desa kepada masyarakat. Akibat pemahaman yang kurang, ada sejumlah masyarakat menolak PMI itu. Cara komunikasi aparat birorakrasi perlu diperbaiki, apalagi kasus Corona sangat simpang siur dalam pemberitaan di media sosial.

Bahkan ada sejumlah  berita hoaks (bohong) yang sengaja disebarluaskan pihak tertentu guna menjatuhkan citra pemerintahan Presiden Jokowi. Oleh karena itu birokrasi di tataran paling bawah harus dengan bijak menjelaskan kepada rakyatnya, sehingga pemahaman tentang merebaknya Corona tidak salah kaprah. Wabah ini mendunia. Bukan terjadi di Bali saja, tetapi dialami seluruh negara di dunia.

Baca juga :  Sembilan Bulan Amankan Perbatasan,Yonif Raider 900/SBW Diberangkatkan ke Papua

PMI (ABK) adalah sumber devisa bagi Bali. Mereka juga pahlawan devisa Bali. Mereka banyak mendatangkan duit atau mengirim uang ke rumah, saat bekerja di Kapal Pesiar. Dana hasil PMI pasti bergulir di Bali untuk berbagai pembangunan masyarakat. Mungkin juga banyak yang disimpan di bank-bank lokal, dan dipinjamkan kembali kepada masyarakat yang memerlukan.

Makin banyaknya pemuda-pemudi Bali bekerja di luar negeri, sangat menguntungkan bagi Bali sendiri. Tenaga kerja Bali terserap di tingkat global, sehingga persaingan mencari kerja di rumah sendiri semakin ringan. Konon paling sedikit 20.000 orang masyarakat Bali menjadi ABK (PMI). Jumlah tersebut cukup banyak, dan bisa jadi semakin banyak jika ekonomi dunia semakin baik.

Baca juga :  Gianyar Minta Penanggulangan Pencemaran Danau Batur Diperjuangkan, Mangku Pastika Kunjungi PLTS Bangklet

Kalau sekarang toh mereka harus pulang karena “dirumahkan” oleh majikannya, Pemerintah dan masyarakat Bali wajib menerimanya. Apa pun alasannya baik “skala – niskala”, Bali tidak boleh menolak mereka. Mereka adalah “semeton” kita, anak-anak kita, dan semuanya “panjak” Ide Bethara leluhur kita di Bali.

Jangankah mereka masih hidup dan sehat-sehat. Kadangkala dalam kondisi sudah menjadi abu pun, masyarakat Bali masih menerima “semetonnya guna di-linggih-kan di Rong Kemulan (Rong Telu) rumah, puri, dan Geria masing-masing. Itulah kecintaan masyarakat Bali terhadap keluarga.

Kasus penolakan yang terjadi belakangan ini, hanya miss-komunikasi, komunikasi yang kurang  pas, akibat masyarakat kurang informasi yang benar.

Saya berharap hal seperti itu tidak berulang, sebab masih banyak PMI akan pulang ke Bali, dan kini masih dalam perjalanan lewat laut dan udara.

Mari, tunjukkan Bali hebat, mampu melawan Corona. Kita tinggalkan aparat birokrasi yang lelet. Kita lupakan mereka yang apriori dan tidak dapat diajak bergotong royong melawan Corona. Sukses Bali! [Made Nariana, wartawan SK POSBALI]

banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 SMK BALI DEWATA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.