Kubu Sentra Pintal Benang Tukelan, Pemkab Karangasem Segera Inovasi Alat Pintal Modern

AKTIVITAS produksi benang tukelan di Dusun Beluhu Kangin, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, masih menggunakan alat tradisional dengan tangan. Foto: ist

KARANGASEM – Siklus pemanfaatan tanaman buah kapas ternyata turun-temurun dilakoni masyarakat Karangasem, khususnya di wilayah Kecamatan Kubu, untuk diolah menjadi benang tukelan yang galib dipakai ritual upacara.

Seperti di Dusun Beluhu Kangin, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, aktivitas produksi benang tukelan benang lokal masih menggunakan alat tradisional dengan tangan.

Bacaan Lainnya

I Nengah Semada selaku Ketua Kelompok Tani Kapas Loka Amerta, Kamis (24/3) menuturkan, usaha produksi benang tukelan ini dijalankan lebih dari 10 tahun.

Pembuatan diawali dengan penanaman kapas sampai umur enam bulan. Setelah berbuah lalu dipanen, dijemur hingga kering, sampai menghasilkan kapas berkualitas bagus.

Benang produksi ada tiga kriteria: pertama, harganya Rp2.500; kedua, Rp5.000; dan yang ketiga, paling besar, Rp10.000. “Yang membedakan harga ini ada sisi kualitasnya juga,” ungkap Semada.

Secara umum, ucapnya, benang tukelan hanya digunakan untuk upacara yadnya saja. Karena kegiatan upacara dibatasi sebagai dampak Covid-19, penjualan juga ikut terjun bebas.

Di Dusun Beluhu Kangin, sebutnya, dia mempekerjakan 25 orang. Mereka bekerja dengan alat pelepas batu kapas dan alat pemintalan. Kapas diproses ke alat pelepas batu yang menggunakan tenaga manual, selanjutnya diolah dengan alat pemintalan menjadi benang tukelan

Baca juga :  Tiga Desa Catatkan Tambahan Pasien Covid-19 Meninggal Dunia

“Bahan kapas kami beli dari Sumbawa, tapi di sini juga menanam kapas dengan cara seadanya. Apalagi sekarang program pemerintah membudidayakan tanaman kapas. Semoga nanti ini bisa meningkatkan daya produksi, sehingga tidak ketergantungan bahan baku dari luar daerah,” lugasnya.

Kabid Penyedia dan Sarana Pengembangan Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem, I Komang Cenik, mengatakan, pemerintah bersinergi dengan pelaku usaha kerajinan pintal benang dan juga petani kapas di Karangasem. Pemerintah berencana melakukan inovasi alat pengupas dan alat pemintal.

“Rencana kami, alat tersebut akan didatangkan dari Balutas Malang (Balai Penelitian Tanaman Serat dan Pemanis) yang harganya mencapai 32 juta. Semoga bulan depan sudah terealisasi,” katanya.

Mengenai berita ada hasil panen kapas premature, dia memberi klarifikasi. Menurutnya, cuaca tidak tentu tidak bisa diantisipasi. Sebenarnya kapas yang dipanen itu merupakan kapas bagian buah bawah, belum buah bagian atas. Kapas bawah dan atas sangat berbeda.

Hanya, dia mengklaim tidak perlu terlalu khawatir soal bisa terjual atau tidak. Karena di kawasan ini termasuk kekurangan kapas, bahkan mendatangkan dari luar.

“Mengingat sekarang tanaman kapas mulai dikembangkan di sini, dengan sistem tertata tentu akan menjadi lebih berguna upaya kebutuhan komoditas pokok,” pungkas Cenik. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.