Kemenparekraf Satukan Persepsi dan Komitmen Buka Pariwisata Bali

  • Whatsapp
DISKUSI kelompok membahas kebijakan strategis akselerasi pembukaan pariwisata Bali. foto: ad

GIANYAR – Menjelang dibukanya pariwisata Bali, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf ) bersama Dinas Pariwisata Bali dan Dinas Pariwisata kabupaten/kota se-Bali, serta beberapa pelaku pariwisata Bali, menyatukan persepsi dan komitmen menyongsong dibukanya pariwisata Bali.

Diskusi kelompok terarah tersebut memfokuskan kepada kebijakan strategis akselerasi pembukaan pariwisata Bali, Rabu (7/4/2021).

Bacaan Lainnya

Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kurleni Umar, mengungkapkan pembukaan pariwisata Bali akan dilakukan secara bertahap.

“Pembukaan secara bertahap dengan Nusa Dua, Sanur, dan Ubud sebagai pilot project (proyek percontohan)-nya,” kata dia saat memaparkan materi terkait prakondisi pembukaan kembali pariwisata Bali, di Taman Nusa Gianyar.

Menurutnya, pariwisata akan dibuka jika terjadi risiko penularan yang rendah. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan vaksinasi untuk tercapainya herd immunity (kekebalan kelompok) terutama di zona prioritas. Pun kesiapan industri untuk jaminan pelayanan prima dan konsistensi penerapan prokes atau dengan sertifikasi CSHE.

Dia menguraikan, ada beberapa parameter yang harus dipenuhi, seperti penurunan tingkat kasus baru serta penurunan populasi tertular Covid-19. Di samping itu, kesiapan sistem kesehatan dan keselamatan yang memadai juga menjadi parameter dibukanya Bali.

Baca juga :  Erupsi Gunung Ili Lewotolok, 2.782 Jiwa Mengungsi

Kurleni juga minta terwujudnya sistem transportasi yang aman. “Saya ingin ada yang bertanggung jawab terhadap transportasi, artinya memastikan sistem transportasi yang terintegrasi dengan zona aman. Intinya memastikan wisatawan berkunjung ke daerah zona hijau,” tegasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa, juga menekankan biro perjalanan harus mengajak wisatawan berkunjung ke zona hijau. Biro perjalanan harus mengatur paket tur sesuai arahan Gubernur. Dengan integrasi berbagai elemen, wisatawan yang datang sehat, begitu pula saat pulang ke negaranya juga dengan sehat.

Astawa menambahkan, travel bubble (gelembung pariwisata) yang dibuka nanti yaitu wisatawan dari Tiongkok, UEA, Singapura dan Korea. Ia juga mengharapkan tata kelola pembangunan kepariwisataan harus diselenggarakan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah dan terintegrasi dalam satu kesatuan wilayah demi mewujudkan kehidupan masyarakat Bali yang lebih baik.

“Ubud sebagai proyek percontohan dibukanya pariwisata mengingat sejarah pariwisata Bali yang dimulai dari Ubud, dan berkembang ke Sanur dan Nusa Dua,” tandasnya.

Wakil Bupati Gianyar, AA Gde Mayun mengatakan, sistem vaksinasi di Gianyar yang dijadikan percontohan vaksinasi di Bali menggunakan berbasis banjar.

“Mengapa banjar? Karena di Bali pada khususnya banyak program yang berhasil dilakukan dengan berbasis banjar. Di samping itu, dengan memanfaatkan kelian banjar mendata masyarakat sendiri atau pekerja yang ada di wilayah banjarnya, sekaligus memobilisasi untuk datang melaksanakan vaksin,” paparnya.

Baca juga :  The Daddies Sebut Pertahanan Lee/Wang Sulit Dibongkar

Di Gianyar, jelasnya, tim vaksin terdiri dari 33 tim dengan setiap tim bisa melaksanakan vaksin kepada 150 hingga 250 orang per hari. Jika diberi 30.000 vaksin, akan selesai cukup dalam 5 hari.

Mengenai persiapan pembukaan kembali Ubud, Pemkab Gianyar menyiapkan penjagaan di pintu masuk Gianyar serta aplikasi tracing (pelacakan) yang berfungsi melacak setiap pergerakan wisatawan dengan menggunakan barcode (kode batang) QR yang akan diletakkan di setiap hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan objek wisata. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.