Kelanjutan Pengelolaan Pabrik Kopi di Mengani Dipertanyakan

  • Whatsapp
WAKIL Ketua DPRD Bangli I Komang Carles. foto: ist

BANGLI – Sampai saat ini kelanjutan pengelolaan pabrik kopi di Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, nyaris tidak terdengar. Padahal sempat diundang saat perayaan HUT RI pada 17 Agustus 2017 silam, dengan hasil olahannya sebagai suguhan para tamu undangan di Istana Negara.

Pabrik ini sesungguhnya sangat diharapkan petani di sekitarnya untuk bisa menampung produksi kopi petani, karena kopi di Kabupaten Bangli, khususnya di Kintamani, bakal memasuki musim panen.

Bacaan Lainnya

Wakil Ketua DPRD Bangli I Komang Carles, Rabu (7/4/2021) mengatakan, sejauh ini instansinya belum mendapat informasi dari intansi yang membidangi atau pihak Perusahaan Daerah (Perusda) terkait tindak lanjut dari pengelolaan pabrik kopi tersebut.

“Hampir setahun kami lakukan sidak, tapi sampai saat ini kami belum mendengar laporan kelanjutan dari pengelolaan pabrik kopi tersebut,” jelasnya.

Dia pun sangat berharap pabrik agar segera dioperasikan, apalagi dalam waktu dekat ini petani kopi di Kintamani bakal memasuki musim panen. Pabrik ini, selain dapat menjadi solusi bagi petani dalam memasarkan produksi kopi, dia juga kasihan melihat aset daerah terbengkalai seperti itu.“Kasihan aset yang luasnya mencapai hektaran itu mangkrak seperti bangunan tidak bertuan,” sesal Carles.

Baca juga :  14 Kios di Pasar Baturiti Terbakar

Disinggung apakah dewan akan memanggil Perusda atau Dinas PKP kembali, dia berujar bosan menggelar raker untuk membahas soal itu. Meski terus rapat, tetap tidak ada tindak lanjutnya di lapangan. Karena itu dia minta Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, memerintah bawahannya untuk segera bekerja menuntaskan persoalan pabrik kopi tersebut.

“Kami harap Bupati Bangli dengan jargon ‘Bangli Era Barunya’ bisa menuntaskan soal pabrik kopi tersebut. Jangan biarkan masalah pabrik kopi ini berlarut-larut, apalagi saat ini petani sudah memasuki musim panen. Kan kasihan hasil panennya dibawa sampai keluar daerah,” urai Carles.

Warga Desa Mengani, I Made Suardika, bertutur, sejauh ini pabrik kopi tersebut masih mangkrak lantaran belum jelas pengelolanya. Malah, menurut dia, warga yang sempat bekerja di pabrik kopi itu sampai saat ini belum mendapat hak-haknya berupa gaji.

Suardika berharap Bupati dan Wakil Bupati Bangli yang baru segera turun tangan menuntaskan persoalan ini. Sebab, masyarakat berharap kalau pabrik itu segera beroperasi.

“Saya yakin Bupati dan Wakil Bupati yang baru bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk kemajuan pabrik kopi yang ada di Mengani, kopi kintamani sudah terkenal di seluruh Indonesia. Jangan sampai kita menghasilkan kopinya, orang lain yang memproduksi, padahal Bangli punya pengolahannya,“ pesannya.

Direktur Perusda Bangli, Alit Putra, belum bisa dimintai konfirmasi. Saat dihubungi lewat Whatsapp, yang bersangkutan mengaku masih rapat. Begitu juga Bagian Hukum Perusda Bangli, Gde Agung Surya, belum bisa memberikan penjelasan terkait kelanjutan pabrik kopi itu. “Saya masih koordinasi dulu dengan yang lain perihal itu,” jawabnya singkat.

Baca juga :  Kasus Penebasan di Kubutambahan Dilimpahkan ke Polres Buleleng, Lima Saksi Diperiksa Polisi

Sebelumnya, I Komang Carles sempat sidak ke lokasi pabrik tersebut. Dia berharap pabrik kopi yang lama mangkrak segera dioperasikan. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.