Kejari Buleleng Lanjutkan Pemeriksaan, Salah Satu Rekanan Kembalikan Dana

  • Whatsapp
TIM Pidsus Kejari Buleleng mengamankan barang bukti uang terkait dugaan korupsi dana PEN Pariwisata yang dikelola oleh Dispar Buleleng. Foto: ist
TIM Pidsus Kejari Buleleng mengamankan barang bukti uang terkait dugaan korupsi dana PEN Pariwisata yang dikelola oleh Dispar Buleleng. Foto: ist

BULELENG – Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng pada Senin (15/2/2021) kembali memeriksa 20 orang saksi terkait kasus dugaan korupsi penyimpangan dana hibah Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Pariwisata.Mereka yang dipanggil kemarin merupakan para rekanan dan para pendukung pelaksanaan kegiatan sosialisasi Cleanliness, Health, Safety, Environment (CHSE) dalam program Eksplore Buleleng.

Menariknya, dalam pemeriksaan saksi-saksi ini, ada salah satu saksi dari pihak rekanan yang telah mengembalikan uang dana PEN Pariwisata yang terlibat dalam Buleleng Eksplore sebesar Rp24 juta.Saat ini, tim penyidik Pidsus Kejari fokus mendalami ‘dalang’ atau orang paling bertanggungjawab dalam aksi korupsi penyimpangan dana hibah PEN Pariwisata yang dikelola Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng tersebut.

Bacaan Lainnya

Kasi Intel Kejari Buleleng, AA Ngurah Jayalantara, mengatakan, proses pemeriksaan terhadap 20 orang saksi ini dilakukan secara maraton. “Kami melakukan pemeriksaan secara maraton dan semua kooperatif,” kata Jayalantara yang juga selaku Humas Kejari Buleleng, Senin (15/2/2021).

Dari pemeriksaan, para pihak mempunyai peran tersendiri dalam kasus dugaan korupsi tersebut sehingga berkas pemeriksaan terbagi sesuai dengan peran masing-masing. “Satu saksi bisa diperiksa untuk dua hingga tiga berkas dengan peran berbeda. Kami juga ada penyitaan uang dari rekanan yakni pihak Bali Handara sebesar Rp24 juta,” jelas Jayalantara.

Baca juga :  GTPP Denpasar Monitoring Penerapan Protokol Kesehatan dan Kenyamanan Berniaga

Modus para tersangka dengan melakukan penyunatan dana PEN ini yakni, dengan cara klasik. “Mau tidak mau, alur para tersangka diikuti pelaku pariwisata. Mereka beralasan jika tidak diambil (uang, red) tidak ada kesempatan untuk membayar listrik dan pegawai,” ungkap Jayalantara.

Lebih ironisnya lagi, satu pertanggungjawaban bisa untuk dua kali kegiatan. Mereka (pelaku pariwisata) mengambil setengah dari seluruh kegiatan yang diagendakan. Hanya saja, pihak Kejari Buleleng tidak akan mengejar pelaku pariwisata yang diajak bersekutu oleh para tersangka.

Kejari Buleleng, sebut Jayalantara, akan mengejar para pihak yang dianggap paling bertanggungjawab dalam kasus tersebut. “Posisi pelaku pariwisata dalam keadaan terjepit dalam situasi pandemi, makanya yang kami kejar pelaku yang paling bertanggungjawab punya niat lakukan korupsi dana PEN,” jelasnya.

Jayanlantara tak menampik ada aliran dana dari hasil korupsi ini. Besarannya pun berbeda-beda. Ini tergantung dari kedudukan dan tingkat struktural para tersangka. Artinya, sesuai eselon. “Ini sudah diatur. Ada menerima pembagian Rp6 juta, Rp9 juta, dan Rp10 juta, bahkan hingga diatasnya. Setiap kegiatan menyetor, dikumpulkan melalui satu orang sebagai pengumpul,” terangnya.

Rencananya, delapan tersangka yakni berinisial Made SN, Nyoman AW, Putu S, Nyoman S, IGA MA, Kadek W, Nyoman GG, dan Putu B akan dipanggil secara bertahap dalam dua hari kedepan. Terhadap kedelapan tersangka ini kemungkinan akan dilakukan penahanan tergantung dari hasil ekspose lebih lanjut.

Baca juga :  Sejumlah RS di Gianyar Rawat Belasan PDP, Ratusan Orang Berstatus Pemantauan

Jayalantara menambahkan, Kejari Buleleng tidak akan bersurat soal penetapan delapan tersangka ini ke tempat mereka bekerja. “Kami tidak bersurat ke instansi dimana para tersangka bekerja karena tidak ada kewajiban soal itu. Tapi kalau Pemkab minta, kami berikan. Kami tetap fokus memeriksa para tersangka atas perbuatan melawan hukumnya,” pungkasnya. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.