Jargon “CGT” di Balik Target 92,5 Persen Giriasa

  • Whatsapp
Gus Hendra. Foto: ist
Gus Hendra. Foto: ist

JOKOWI mendapat perolehan suara 90,09 persen saat Pilkada Solo 2010, kontestasi untuk periode kedua. Tetap berpasangan dengan FX Rudyatmo, Jokowi tidak terlalu berkampanye melawan Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi itu, karena yakin rakyat Solo menghargai kinerjanya pada lima tahun pertama. Kilau prestasi Jokowi itu membuat PDIP mendaulat Jokowi untuk tanding di Pilkada DKI 2012, lanjut ke Pilpres 2014 dan menjabat Presiden sampai sekarang.

Perolehan suara Jokowi diimitasi Giriasa sebagai paslon tunggal di Pilkada Badung, dengan target kemenangan 92,5 persen. Jika terwujud, Giriasa dengan Giri Prasta sebagai ikon akan tercatat sebagai kepala daerah terhebat di Bali. Kemenangan sebesar itu juga niscaya melambungkan citra diri Giri Prasta untuk dielus sebagai kandidat Gubernur Bali pada 2023 mendatang.

Bacaan Lainnya

Di atas kertas, angka itu sangat mudah terwujud, menimbang peta kekuatan suara di parlemen yang diborong dalam satu barisan. Namun, praktik acapkali berbeda dengan asumsi. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang berpotensi jadi sandungan, lebih tepatnya tantangan, mewujudkan itu.

Pertama, adanya faksi di internal PDIP Badung, karena ada kelompok kurang sreg dengan rekomendasi DPP. Suiasa menjadi figur yang diincar. Artinya, ada potensi kelompok ini tidak bulat mendulang suara meski tetap dalam batas memenangkan Giriasa. Politik kompromis dan akomodatif, entah dengan cara bagaimana, sepertinya menarik jadi solusi.

Baca juga :  Asah Kemampuan, Kodim 1616/Gianyar Gelar Latihan Menembak

Kedua, adanya kampanye kolom kosong secara diam-diam oleh sedikitnya dua kubu. Pertama, loyalis penglingsir Puri Mengwi, AA Gde Agung, yang memposisikan dan diposisikan sebagai rivalpolitik Giri Prasta. Kedua, kader dan simpatisan Golkar yang kecewa dengan keputusan elite DPP Golkar berlabuh ke Giriasa, alih-alih memilih Diatmika-Muntra. Meski kedua kubu ini tidak berkait langsung, saat ini mereka memiliki kepentingan sama untuk merepotkan Giriasa. Romantisme kemenangan kolom kosong di Pilkada Makassar 2018 dijadikan titik ungkit dan gaung narasi, terutama di media sosial.

Terlepas ada kekurangannya, suka tidak suka publik mengakui Gde Agung memiliki modal simbolik sebagai Bupati Badung dua periode dengan banyak warisan pembangunan. Selain itu, secara budaya, puri sebagai patron masih memiliki kharisma yang dapat mempengaruhi rakyat sebagai klien. Paslon yang direstui puri, apalagi puri dengan historiografi terpandang di wilayah itu, lebih memiliki nilai jual daripada yang tidak.

Ketiga, sebagai paslon tunggal, segala kekurangan kondisi Badung saat ini mudah diarahkan sebagai bentuk kelemahan petahana mengelola keuangan daerah. Tidak ada pihak yang bisa diajak “berbagi” kekurangan, sebagaimana dapat dilakukan jika ada paslon pesaing. Paslon tunggal hanya bisa bertahan dari gempuran opini dan kampanye negatif, karena sulit menyerang balik. Lagian, siapa pula yang akan diserang balik?

Petahana mencoba meredam kampanye kolom kosong dengan wacana, “yang memilih kolom kosong berarti tidak ingin pembangunan (dan pemanjaan) di Badung berlanjut”.  Wacana ini pun sesungguhnya agak lemah dan kurang realistis. Sebab, faktanya, sejak tahun akhir 2018 dan awal 2019 banyak kegiatan dan program di Badung “terpaksa ditunda” akibat sengkarut manajemen anggaran pemerintah.

Baca juga :  DPC PDIP Badung Lapor Kasus Pembakaran Bendera Partai, Ini Penegasan Giri Prasta

Sekarang tinggal bagaimana Giriasa melihat tantangan itu, sekaligus memilah jalan melapangkan langkah mewujudkan target kemenangan. Dampak pandemi Covid-19 menyebabkan tekanan berat pada perekonomian Bali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Triwulan II 2020, ekonomi Bali mengalami kontraksi minus 10,98 persen jika dikomparasi periode sama tahun 2019. Angka itu terkoreksi jauh dari Triwulan I yang hanya minus 1,14 persen.

Dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional, Bali jeblok hampir dua kali lipat, karena di Triwulan II nasional “hanya” minus 5,32 persen. Kepala BPS Provinsi Bali Adi Nugroho, Kamis (6/8) menyatakan kolapsnya industri pariwisata Bali sebagai pemicu utama kontraksi ekonomi Bali. Dan, penyumbang terbesar pendapatan Badung adalah pariwisata. Dengan lain ucap, sepintar apapun kepala daerah, nasib Badung bergantung perkembangan pariwisata nasional dan internasional.

Jika dulu publik Badung akrab dengan istilah “CGT” atau cenik gae to (kecil urusan itu), sekarang jangankan mengucap itu, sekadar ingin berkata begitu saja sepertinya mesti berpikir ulang. “CGT” yang dulu menjadi simbol besarnya kekuasaan, kini menjadi titik lemah untuk diolok-olok serta diamplifikasi sebagai delegitimasi kepemimpinan saat ini. Jadi, mampukah Giriasa menumbangkan rekor Jokowi itu melalui Pilkada tahun 2020 ini? Kita lihat 9 Desember nanti. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.