IPM NTB Peringkat Ke-29, DPRD NTB Minta Fokus Percepat Pemerataan Pendidikan

  • Whatsapp
HL. Budi Suryata. Foto: rul
HL. Budi Suryata. Foto: rul

MATARAM – Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rata-rata tumbuh 1,06 persen per tahun pada 2010-2021. Namun, IPM NTB berada di urutan 29 dari 34 provinsi di Indonesia.  

Anggota Komisi V DPRD NTB, HL. Budi Suryata, minta Pemprov NTB fokus memperhatikan tingkat pemerataan pendidikan dan pembangunan manusia di 10 kabupaten/kota di NTB. Tujuannya agar kualitas SDM di NTB ada peningkatan setiap tahun. Pendidikan dinilai kunci terpenting dalam peningkatan IPM, karena untuk memacu pencapaian kualitas SDM yang benar-benar memajukan NTB. 

Bacaan Lainnya

“Jika IPM ini meningkat, tentu kesejahteraan dan kualitas hidup meningkat. Kami prihatin peringkat IPM sesuai rilis BPS yang menempatkan NTB di peringkat ke-29 saat ini,” sesal politisi PDIP itu, Kamis (2/12/2021).

Dia mendesak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB untuk fokus melakukan pembenahan. Sebab, diperlukan inovasi dalam mempercepat penguatan pembangunan SDM yang mumpuni. Pemprov NTB disilakan jalan dengan program pengiriman mahasiswa ke luar negeri, tapi kedalaman untuk pemerataan pendidikan di semua wilayah NTB juga diperlukan. Rata-rata lama bersekolah penduduk dan angka melek huruf masih jadi persoalan yang harus dituntaskan secepatnya.

Baca juga :  Sekda Bali Minta Masyarakat Ikuti Peringatan Detik-detik Proklamasi

BPS Provinsi NTB merilis IPM Provinsi NTB berada di kategori capaian sedang, dan masih berada di bawah nasional sebesar 72,29 persen. Menurut Kepala BPS NTB, Wahyudin, dalam satu dekade pembangunan manusia di NTB terus mengalami kemajuan. IPM NTB meningkat dari 61,16 persen pada 2010 menjadi 68,14 pada 2019.

Selama periode tersebut, IPM NTB rata-rata tumbuh sebesar 1,21 persen per tahun. Namun, pandemi Covid-19 telah membawa sedikit perubahan dalam pencapaian pembangunan manusia NTB. Wahyudin menambahkan IPM pada 2020 tercatat sebesar 68,25 persen atau tumbuh 0,16 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya. Kemudian IPM NTB pada 2021 sebesar 68,65 atau tumbuh 0,59 persen.

“Pelambatan capaian IPM pada 2020 disebabkan menurunnya pertumbuhan komponen pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan. Sementara komponen lainnya masih tetap tumbuh positif,” jelasnya di kesempatan terpisah.

Dari indikator dimensi umur harapan hidup (UHH) saat lahir yang merepresentasikan dimensi umur panjang dan hidup sehat, disebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2010 hingga 2021, UHH NTB meningkat 2,87 persen atau rerata tumbuh 0,4 persen per tahun. Dimensi pengetahuan, terangnya, dibentuk dua indikator, yakni harapan lama sekolah (HLS) penduduk usia tujuh tahun ke atas, dan rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas.

Kedua indikator itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2010 hingga 2021, HLS NTB telah meningkat 2,24 tahun, sementara RLS meningkat 1,65 tahun. “Di tengah pandemi Covid-19, HLS NTB masih tumbuh positif tapi pertumbuhan RLS melambat,” urainya.

Baca juga :  PSSI Pusat Tak Mempermasalahkan Asprov Tidak Menggelar Liga 3 dan Piala Soeratin

Dimensi terakhir, kata dia, yang mewakili kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan pengeluaran per kapita (atas dasar harga konstan 2012) yang disesuaikan. Pada 2021, pengeluaran per kapita yang disesuaikan masyarakat NTB mencapai Rp10,38 juta per tahun, meningkat dibandingkan tahun 2020 sebesar 0,25 persen. Namun, pada 2020 menurun dibanding tahun sebelumnya sebesar 2,72 persen, dan merupakan kali pertama sejak IPM dihitung dengan metode baru. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.