Hanya Minions Tersisa di Semifinal Indonesia Masters 2021, Catatan Terburuk Sejak 2010

  • Whatsapp
GANDA putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo saat mengalahkan juniornya Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Rambitan pada babak perempatfinal Kejuaraan Indonesia Masters 2021 di Nusa Dua, Bali, Jumat (19/11/2021). foto: antaranews

MANGUPURA – Ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Minions) menjadi satu-satunya wakil tuan rumah tersisa pada semifinal Indonesia Masters 2021, yang berlangsung di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.

Hasil tersebut menjadi catatan terburuk Merah Putih sepanjang pelaksanaan Indonesia Masters sejak pertama kali digelar pada 2010. Dalam keikutsertaannya di Indonesia Masters, Merah Putih kerap membawa pulang lebih dari satu gelar dalam turnamen yang kini naik level menjadi Super 750 tersebut.

Bacaan Lainnya

Pada edisi sebelumnya di Istora Senayan, Jakarta, Indonesia berhasil meraih tiga titel lewat Anthony Sinisuka Ginting dari sektor tunggal putra, Marcus/Kevin dari ganda putra, dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu dari nomor ganda putri.

Marcus/Kevin melaju ke semifinal setelah menyingkirkan juniornya Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Rambitan, pada pertandandingan perempatfinal, Jumat (19/11/2021).

Minions yang menjadi unggulan teratas itu menang dua gim langsung 22-20 dan 21-17. Pada semifinal Sabtu (20/11/2021), Minions bakal menghadapi pasangan Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi.

Indonesia sebenarnya masih menaruh harapan terhadap dua wakilnya di perempatfinal. Namun langkah Greysia/Apriyani terhenti setelah dikandaskan pasangan Thailand Puttita Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai 21-18, 13-21 dan 19-21.

Baca juga :  Ini Pedoman Penyelenggaraan Kejuaraan Olahraga Saat Normal Baru

Kekalahan juga dialami ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja yang takluk kepada wakil Jepang unggulan ketiga Yuta Watanabe/Arisa Higashino melalui pertarungan melelahkan yang berakhir rubber game 21-16, 17-21 dan 9-21.

Mengomentari kekalahannya, Greysia/Apriyani mengakui Puttita Supajirakul/Sapsiree Taerattanacha tampil lebih baik. ”Sejak gim pertama kami lebih mendominasi, tapi di set kedua dan ketiga mereka berbalik mengendalikan kami,” ujar Greysia.

Greysia menceritakan, penampilan Puttita/Sapsiree di babak delapan besar sangat solid dan sulit untuk didikte. Saat Greysia/Apriyani berusaha mengejar dan mengganti strategi, wakil Thailand itu tidak lengah dan fokus.

Di satu sisi, Greysia/Apriyani sempat merasa kesal karena sulit menembus pertahanan lawan meski sudah berganti strategi.

“Secara mental mereka lebih unggul secara konsisten. Itu yang membuat kami kurang bisa memainkan strategi yang kami inginkan. Secara pikiran, kami ingin pakai strategi lain, tapi waktu dilakukan tetap tidak berhasil. Ini yang membuat kami merasa sebal dan emosi,” Greysia mengungkapkan.

Apriyani juga melihat unsur kekalahannya hari ini lebih pada aspek ketahanan mental yang sayangnya lebih inferior dibanding Puttita/Sapsiree.

“Soal lapangan atau angin tidak bisa dijadikan alasan. Mereka yang mainnya sedang bagus hari ini. Kami sudah berusaha mengejar, tapi kepercayaan diri mereka sedang tinggi. Sementara kami tidak bisa keluar dari tekanan,” kata Apriyani, yang dilansir posmerdeka.com dari antaranews.

Sementara, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja mengungkapkan bahwa mereka sudah bermain maksimal dengan mengeluarkan seluruh tenaga meladeni Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Baca juga :  Sepakat Damai, Desa Adat Pakudui Rangkul Warga Tempek Kangin

“Pertandingan ini sangat menguras tenaga buat kami. Tapi kami sudah mengeluarkan tenaga yang paling banyak hari ini, karena mereka susah ditembus,” kata Hafiz.

Sebenarnya, wakil Indonesia ini sempat unggul di gim pertama dan menampilkan permainan yang komunikatif dan berani mengejar inisiatif pertandingan. Tapi, pada gim ketiga, energi Hafiz/Gloria sudah terkuras meski keduanya masih menjaga kekompakan dan komunikasi.

Faktor energi ini menjadi penentu kemenangan Yuta/Arisa dan berhak melaju ke babak semifinal, sementara Hafiz/Gloria yang menjadi wakil terakhir di nomor ganda campuran harus gugur dan mengakui keunggulan lawannya setelah berjuang 68 menit.

“Set pertama tenaga kami masih full, konsentrasi dan fokus masih terjaga, main masih enak. Jadinya bisa menang set pertama. Setelah itu mereka main lop terus, sulit dimatikan. Sebenarnya main kuat-kuatan, dan mereka lebih tahan,” ujar Hafiz.

Selain tenaga, menurut Hafiz/Gloria dalam menghadapi lawan dengan peringkat yang lebih tinggi harus punya kualitas mental yang lebih matang dan stabil.

Mental yang naik-turun akan sangat mempengaruhi permainan di lapangan dan ini adalah hal yang seharusnya sudah dihilangkan oleh pemain level atas seperti Yuta/Arisa.

“Tapi memang namanya unggulan, mereka pasti punya kepercayaan diri lebih dari kami. Mungkin mereka sering masuk final atau babak akhir, sehingga kami pun seharusnya tidak boleh kendur sama sekali kalau lawan unggulan,” pungkas Hafiz. yes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.