Gubernur Koster Luncurkan Buku “Ekonomi Kerthi Bali, Membangun Bali Era Baru”

  • Whatsapp
GUBERNUR Koster foto bersama dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, dan undangan lainnya dalam peluncuran buku 'Ekonomi Kerthi Bali, Membangun Bali Era Baru' di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu (20/10/2021). Foto: ist

DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, meluncurkan buku ‘Ekonomi Kerthi Bali, Membangun Bali Era Baru’ yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-59. Dalam peluncuran buku yang ditulis oleh Wayan Koster sendiri, tampak dihadiri Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, dan berlangsung secara hybrid dari Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu (20/10/2021).

Gubernur Koster mengatakan, alam Bali, manusia/krama Bali, dan kebudayaan Bali merupakan tiga unsur utama yang harus dipahami secara komprehensif tentang Bali. Ketiga unsur utama tersebut menjadi satu-kesatuan tata cara kehidupan krama Bali yang berkebudayaan tinggi. Buku ini menarik karena berisi data yang actual tentang Bali dan kebalian saat ini.

Bacaan Lainnya

Dia merinci, alam Bali terdiri dari lahan pertanian berupa sawah dan bukan sawah dengan luas 353.400 hektare dan lahan bukan pertanian dengan luas 210.266 hektare. Kawasan hutan dengan luas 136.832 hektare (24,3%), yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi, dua taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya dan hutan cagar alam. Garis pantai yang mengelilingi Pulau Bali dan pulau-pulau kecil lainnya, yakni sepanjang 633,2 km meliputi 8 kabupaten/kota (kecuali Bangli) dan dengan luas laut 9.440 km2.

“Pertanian Bali menghasilkan produk yang berkualitas dan sangat terkenal, seperti beras Bali, salak Bali, jeruk Bali, kopi Bali, kakao, manggis, dan anggur. Sedangkan kelautan dan perikanan menghasilkan produk yang berkualitas dan sangat terkenal, seperti ikan tuna, cakalang, krapu, udang, kepiting, lobster, cumi-cumi, dan berbagai ikan hias, serta garam tradisional lokal Bali,’’ sebutnya.

Baca juga :  Pariwisata Terpuruk, Wagub Cok Ace Ajak Masyarakat Bali Kembali ke Pertanian

Koster menjelaskan, secara historis dan sosiologis menunjukkan bahwa krama Bali adalah manusia unggul yang memiliki kualitas, integritas, dan loyalitas dengan nilai-nilai kebudayaan tinggi. Dari sisi kualitas, keunggulan krama Bali tersebut tercermin dalam potensinya yang luar biasa, yaitu: rajin, tekun, kreatif, dan inovatif.

“Dengan kualitas tersebut krama Bali mampu menghasilkan karya-karya berbasis budaya berupa kerajinan rakyat yang kreatif dan inovatif serta bernilai tinggi sehingga menarik perhatian masyarakat dunia,” ungkapnya.

Gubernur asal Sembiran ini juga membeberkan bahwa kebudayaan merupakan sumber daya utama, penting dan strategis yang dimiliki oleh Bali. Keseharian krama Bali dengan budayanya yang unik, senantiasa menampilkan kontur budaya lokal dan semua itu menunjukkan bahwa perjalanan Bali telah melewati alur sejarah yang panjang. Indikasi tersebut dapat dilihat dari sekian banyak temuan arkeologis di berbagai wilayah Bali yang menceritakan tentang masa lalu perjalanan panjang Bali.

“Kehidupan budaya krama Bali juga tercermin dalam pertanian berupa sistem subak sebagai manifestasi dari filosofi nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yang merupakan suatu kearifan lokal dengan budaya sangat tinggi sehingga dikagumi oleh dunia. Sistem subak sebagai suatu sistem pertanian budaya Bali mendapat pengakuan dan pelindungan dari Unesco, sebagai warisan dunia,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Koster, masyarakat dunia, bahkan pemimpin dunia memberi sebutan untuk Bali yaitu The Island of Gods (Pulau Dewata), The Island of Thousand Temples (Pulau Seribu Pura), The Morning of the World (Mentari Pagi di Pulau Bali atau Paginya Dunia), The Paradise Island (Pulau Surga), The Last Paradise (Surga Terakhir di Bumi), dan The Island of Love (Pulau Cinta).

Baca juga :  Desa Cemagi Canangkan Gerakan Merdeka Bebas Sampah Plastik, Wabup Suiasa Sumbangkan 100 Kg Beras

“Alam Bali, krama Bali, dan kebudayaan Bali yang sangat kaya, unik, dan unggul secara historis dan tradisi turun-temurun sesungguhnya merupakan sumber daya perekonomian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Bali,” ujarnya.

Gubernur Koster menyebut, sejak tahun 1930-an, kekayaan, keunikan, dan keunggulan kebudayaan Bali dalam berbagai karya seni di Ubud, telah menjadi daya tarik masyarakat dunia sehingga Bali dikunjungi masyarakat dari berbagai negara di dunia. Sejak saat itu, Bali semakin dikenal, kemudian berkembang menjadi destinasi wisata dunia.

Dalam perkembangan selanjutnya, pariwisata berkembang dengan pesat yang ditandai dengan meningkatnya wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Bali, meningkatnya pembangunan fasilitas dan sarana prasarana pendukung pariwisata, semakin berkembangnya usaha jasa pariwisata.

“Sektor pariwisata memberi konstribusi paling besar terhadap pertumbuhan perekonomian Bali.Bahkan Bali menjadi semakin bergantung dari pariwisata. Pembangunan pariwisata diselenggarakan dengan arah kebijakan yang kurang tepat sehingga tidak menghidupi/memberi manfaat sektor pertanian, kelautan dan perikanan, serta industri kerajinan rakyat berbasis budaya. Akibatnya sektor pertanian, kelautan dan perikanan semakin ditinggal oleh masyarakat, beralih ke sektor pariwisata,” jelasnya.

Dia menambahkan, sektor pariwisata sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal, seperti gangguan keamanan (bom Bali 1 dan bom Bali 2), bencana alam (erupsi Gunung Agung), dan bencana nonalam (virus SARS, Flu Burung), dan munculnya Pandemi Covid-19 yang melanda hampir semua negara di dunia. Kejadian yang menimpa sektor pariwisata ini, berdampak langsung yang mengakibatkan perekonomian Bali terpuruk.

Baca juga :  Bupati Sedana Arta Resmikan Lab PCR RSUD Bangli

Bertitik tolak dari dinamika tersebut, jelas dia, sudah saatnya Bali menata ulang perekonomian untuk menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali. Kembali kepada keorisinilan dan keunggulan sumber daya lokal meliputi alam, krama, dan kebudayaan Bali terutama di sektor pertanian, kelautan dan perikanan, dan industri kerajinan rakyat berbasis budaya branding Bali. Pariwisata diposisikan sebagai sumber tambahan (bonus/benefit) dalam perekonomian Bali yang harus dikelola agar berpihak terhadap sumber daya lokal Bali.

Selain itu, imbuh dia, hendaknya pengembangan perekonomian Bali mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) termasuk teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi kreatif dan digital. “Perkembangan iptek juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian agar berkualitas, bernilai tambah, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tandasnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.