POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Aula DPD PDIP Bali dijejali puluhan pelajar SD, SMP, SMA/SMK berpakaian adat Bali dari Kabupaten Buleleng, Karangasem, dan Jembrana, Selasa (13/6/2023). Mereka adalah peserta lomba Cerdas Cermat (Utsawa Widya Tarka) Susastra Bali yang diadakan DPD PDIP serangkaian HUT ke-50 PDIP dan Bulan Bung Karno 2023. Mungkin karena grogi kali pertama ikut lomba, salah satu regu peserta sampai salah menjawab pertanyaan siapa nama Gubernur Bali.
Dalam sambutannya, IGA Diah Werdhi Srikandi selaku panitia menjelaskan, lomba ini sebagai bentuk perhatian PDIP dalam merawat keberadaan bahasa, aksara, dan sastra Bali. Tiga hal itu merupakan jiwa kebudayaan Bali yang terkenal di dunia. Pun pelaksanaan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
“Prinsip Sat Kerthi itu patut kita ajegkan agar lestari. Utsawa Widyatarka Susastra Bali ini juga mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, juga Perda Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali; dan Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali,” paparnya dalam Bahasa Bali halus.
Dia menguraikan, lomba dilaksanakan hanya tingkat provinsi, diikuti sembilan peserta duta kabupaten/kota se-Bali. Tingkat SD 1 regu, SMP 1 regu, dan SMA/SMK masing-masing 1 regu. Lomba dimulai tanggal 13 Juni sampai 16 Juni mendatang. “Pemenang I, II, III mendapat hadiah piagam, piala, dan uang pembinaan,” jelas anggota Komisi 3 DPRD Bali tersebut.
Salah satu juri, Prof. Nyoman Suwija, menambahkan, Bulan Bahasa Bali tidak akan ada tanpa inisiatif Gubernur Wayan Koster dan PDIP. Pergub Bali Nomor 80/2018 dipuji sebagai pembaru dari Perda senada yang dibuat puluhan tahun lalu. Kini juga ada lembaga Bahasa Bali di Dinas Kebudayaan Bali yang dinakhodai Prof. Nyoman Suarka.
Dengan adanya Pergub 80/2018 itu, sambungnya, setiap Februari tanggal 1-18 dilangsungkan lomba nyastra Bali dari tingkat provinsi sampai desa adat. Semua itu menunjukkan bagaimana upaya Koster memelihara bahasa dan aksara Bali, sekaligus memelihara alam Bali menuju Bali Era Baru. “Soal- soal memakai visi Nangun Sat Kerti Loka Bali. Anak-anak patut berbahagia karena mendapat kesempatan dalam agenda membumikan visi Nangun Sat Kerti,” paparnya, juga dalam bahasa Bali halus.
Peraturan lomba, terangnya, peserta dibagi tiga regu yakni A, B, dan C dengan pertanyaan wajib dan operan. Bagi suporter, dilarang ikut menjawab atau memberi kode jawaban bagi peserta. Selain menjawab dengan lisan, peserta juga diberi soal dengan menulis memakai aksara Bali. “Peserta boleh diganti 1 orang setiap regu,” tegasnya.
Untuk yang pertama naik panggung adalah tingkat SD. Seperti disinggung di atas, salah satu peserta dari regu A kemungkinan demam panggung. Ketika ditanya siapa nama Gubernur Bali, dia spontan menjawab “I Gusti Wayan Koster,”. Jawaban itu memantik tawa hadirin. “Nggih, jawaban salah,” komentar juri sambil tersenyum.
“Pak Koster durung munggah (belum naik) dados (menjadi) Gusti,” celetuk salah seorang pembina peserta sambil cekikikan. hen
























