POSMERDEKA.COM, JEMBRANA – Koalisi Jembrana Maju (KJM) sebagai motor penggerak mesin politik pasangan Nengah Tamba-Patriana Krisna pada Pilkada Jembrana 2020 lalu, saat ini sedang bergolak. Meski menyatakan mendukung sampai akhir masa pemerintahan Tamba-Ipat, tapi dua anggota koalisi yang cukup gemuk itu, Partai Golkar dan Gerindra, sangat berpeluang untuk buang badan pada Pilkada 2024.
Sebelumnya Ketua Demokrat Jembrana, I Wayan Wardana, menyatakan di media akan mengusung kembali Tamba-Ipat pada di Pilkada 2024. Namun, pernyataan itu dipersoalkan Golkar dan Gerindra, karena bukan didasari keputusan KJM yang sampai kini belum memutuskan siapa jagoannya. Alasannya, Tamba secara pribadi belum menunjukan sinyal mendapat dukungan dari KJM. Pun kemungkinan besar peta koalisi akan berubah, dan kepastiannya baru akan terlihat dilihat pada Agustus mendatang.
Ketua DPC Partai Gerindra Jembrana, I Kade Darma Susila, Jumat (7/4/2023) mengatakan, KJM akan mengevaluasi siapa figur yang layak untuk maju dalam Pilkada 2024. Dia menaksir kemungkinan akan ada tiga poros atau paket pasangan calon yang akan berkontestasi. “Perlu kita cermati bersama, yang akan mendaftarkan pasangan calon itu adalah partai politik atau gabungan partai politik ke KPU. Apakah nanti ada perubahan peta Koalisi, mari kita lihat nanti di bulan Agustus 2023,” sebut anggota Komisi II DPRD Bali tersebut.
Di kesempatan terpisah, Ketua DPD Partai Golkar Jembrana, I Made Suardana, mengatakan, sebagai partai pemenang kedua di legislatif Jembrana, Golkar akan berusaha memberi yang terbaik kepada masyarakat Jembrana. Siapa pun nanti tokoh yang akan diusung dalam Pilkada 2024, diklaim pasti dianggap layak dan mampu memimpin masyarakat Jembrana.
“Serta pemimpin yang berdedikasi, berkomitmen dan memiliki loyalitas tinggi demi kesejahteraan masyarakat Jembrana,” urai anggota Komisi III DPRD Bali itu.
Bahwa pengertian “yang terbaik” itu berarti sangat terbuka juga peluang untuk tidak lagi dalam KJM, Suardana menegaskan Koalisi tetap solid sampai 2024. Dia mengakui Golkar sejauh ini sudah melihat ada sejumlah tokoh yang lebih baik dari Tamba-Ipat. Namun, tetap perlu dilakukan kajian mendalam terhadap tokoh-tokoh baru tersebut.
Disinggung santer isu di masyarakat bahwa duet Tamba-Ipat kurang mesra gegara masih ada luka karena sikap Tamba yang kurang menghargai eksistensi Ipat sebagai Wakil Bupati, Suardana tidak memungkiri.”Ya namanya menyatukan dua kepala yang berbeda, pertentangan dan perbedaan pendapat pasti ada,” jawabnya diplomatis.
Namun, digoda bahwa perbedaan pendapat di antara Tamba-Ipat pasti ada karena “pendapatannya” juga beda, Suardana hanya tertawa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, selama dua tahun kepemimpinan Bupati Tamba, baru empat kali dia pernah pertemuan dengan pimpinan partai Koalisi Jembrana Maju. Pertemuan juga terjadi atas dasar inisiatif Koalisi dalam mengundang Bupati yang terpilih pada Pilkada 2020 itu.
Pertemuan dilangsungkan untuk memberi masukan terkait pembangunan di Jembrana, khususnya agar Bupati lebih fokus terhadap 13 program visi-misi dalam menyejahterakan masyarakat Jembrana sesuai janji kampanye. Selain itu mendorong Bupati melaksanakan program-program inovatifnya. hen
























