Garang Elektabilitas Demokrat Masih Fluktuatif, Minim Isu Strategis, PSI Sulit Membesar

Nyoman Subanda. Foto: ist
Nyoman Subanda. Foto: ist

DENPASAR – Melejitnya elektabilitas Partai Demokrat sesuai hasil survei Litbang Kompas pada Januari 2022 memang menakjubkan. Hanya, garangnya nilai keterpilihan politik itu masih tentatif dan rentan berubah karena sejumlah faktor. Di pihak lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang banyak diisi anak muda terlihat minim isu strategis, sehingga sulit jadi partai besar.

Dalam pandangan akademisi FISIP Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Nyoman Subanda, Kamis (24/2/2022), elektabilitas Demokrat saat ini yang melebihi Golkar rentan berubah. Pelbagai faktor yang menyebabkan bertahan di elektabilitas tinggi tidak ada yang kuat, itulah soalnya. Dari rekam jejaknya, Demokrat pernah jadi pemenang Pemilu 2009 murni karena faktor Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang disukai publik dan diinginkan jadi Presiden.

Read More

“Demokrat saat itu mendapat keuntungan elektoral dari SBY. Supaya SBY bisa jadi Presiden, Demokrat yang jadi kendaraan politik harus didongkrak perolehan suaranya,” terang Subanda.

Situasi hari ini, sambungnya, citra dan rekam jejak SBY banyak dirisak dan dipersepsikan negatif oleh khalayak. Kondisi itu otomatis membuat faktor SBY tidak mampu lagi mengangkat optimal citra partai.  Selain Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tidak ada elite Demokrat yang sangat menonjol. Kalaupun ada, mereka justru berseberangan atau keluar dari Demokrat.  

“Karena itu, belum bisa diyakini elektabilitas saat ini akan berjalan linier dan bertahan sampai 2024, masih fluktuatif dan cair. Nasdem justru bisa mengungguli Demokrat nanti,” ucapnya memprediksi.

Adanya isu kudeta kepemimpinan AHY yang dinilai mempengaruhi akseptabilitas publik terhadap Demokrat, Subanda melihat kuantitasnya tidak terlalu signifikan. Alasannya, isu kudeta justru diserang balik oleh elite Demokrat sendiri yang berseberangan dengan AHY. Termasuk isu pemerintah menzalimi Demokrat, juga dipatahkan mantan kader Demokrat. Singkat kata, jejalan isu dari kubu AHY itu tidak banyak pengaruh menambah citra positif Demokrat.

“Isu kudeta Demokrat oleh Moeldoko itu sifatnya tentatif, tidak sampai mempengaruhi luas terhadap keinginan masyarakat untuk membela Demokrat. Kalau dianggap kemudian isu tadi membuat persepsi Demokrat perlu disayang, nilainya 50:50,” lugasnya.

Dikutip dari Survei Kepemimpinan Nasional Litbang Kompas, empat besar elektabilitas partai diisi PDIP (22,8 persen), disusul Gerindra (13,9 persen), Demokrat (10,7 persen) dan Golkar (8,6 persen). Di bawah itu berturut-turut terdapat PKS (6,8 persen), PKB (5,5 persen), Nasdem (3,5 persen), PPP (2,8 persen), PAN (2,5 persen), dan Perindo (2,5 persen). Survei yang sama mencatat ada lima partai yang elektabilitasnya di bawah 1 persen yakni PSI (0,9 persen), Hanura (0,6 persen), PBB (0,6 persen), Partai Garuda (0,4 persen), dan partai-partai lainnya (0,3 persen).

Membincang PSI yang selama ini kencang di media tapi elektabilitasnya kecil, Subanda berpendapat sebenarnya PSI partai alternatif baik dengan angle berbeda dari partai lain. Meski baru, PSI berani vokal dan berseberangan dengan partai atau tokoh yang berkuasa. Misalnya kontra dengan Gubernur Anies Baswedan di DKI Jakarta, juga di daerah lain. Termasuk berani mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak ke rakyat.

Handicap PSI, imbuhnya, masih satu frekuensi dengan PDIP dan Jokowi, tapi berseberangan dengan elite atau partai yang kontra dengan Jokowi. Kondisi itu membuat PSI secara tidak langsung menjadi pendukung pemerintah, dan mendapat keuntungan elektoral dari figur Jokowi, tapi tidak akan mampu melebihi PDIP. “Kecuali bisa membuat perbedaan dengan tetap mempertahankan idealisme, kritis, dan jeli tetap berpihak ke rakyat,” pungkasnya. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.