POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Fenomena tren berbahaya di kalangan anak-anak kembali menjadi perhatian serius. Kali ini, muncul aksi yang dikenal dengan istilah “sujud freestyle”, yakni gerakan akrobatik dengan posisi kepala sebagai tumpuan utama. Meski terlihat seperti permainan biasa dan kerap dianggap lucu atau menarik, aktivitas ini menyimpan risiko besar yang dapat mengancam keselamatan anak.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama, mengingatkan satuan pendidikan mulai jenjang TK, SD, dan SMP serta orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap siswa agar tren aksi “sujud freestyle” tidak meluas. “Kami sudah sampaikan pada kepala satuan pendidikan mulai dari TK, SD, dan SMP untuk menyikapi tren berbahaya ini,” ujar Agung Wiratama, Senin (18/5/2026).
Ia mengatakan, fenomena tersebut memicu kekhawatiran masyarakat. Gerakannya dilakukan dengan kepala menjadi tumpuan tubuh sambil kedua kaki diangkat ke atas. Sekilas terlihat seperti tantangan biasa. Namun posisi leher dan kepala yang menopang berat badan dinilai berbahaya jika dilakukan tanpa teknik dan pengawasan.
Menurut Agung Wiratama, anak-anak cenderung mudah mengikuti tantangan yang sedang viral karena dianggap menyenangkan dan mendapat perhatian dari teman sebaya. Padahal, risiko dari aksi tersebut tidak ringan. “Kalau jatuh, risikonya berat. Bisa menyebabkan cedera serius bahkan meninggal dunia,” katanya.
Ia menilai sekolah tidak cukup hanya melarang. Guru diminta aktif menjelaskan dampak dari tren berbahaya yang banyak muncul di media sosial. Sebab, sebagian anak mengikuti tantangan hanya karena rasa penasaran dan ingin dianggap berani.
“Anak-anak ini cenderung ikut-ikutan tanpa memahami risikonya. Di sinilah pentingnya peran guru untuk memberi pemahaman, mana aktivitas yang aman dan mana yang berbahaya. Anak perlu diberikan pemahaman bahwa menjaga keselamatan diri adalah bagian dari sikap cerdas dan disiplin,” ujarnya.
Fenomena tantangan viral yang ditiru anak-anak sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai tren media sosial kerap memicu perilaku berisiko di kalangan pelajar, mulai dari aksi ekstrem hingga permainan yang membahayakan fisik. Kemudahan akses video pendek membuat tren semacam itu cepat menyebar dan mudah ditiru.
Disdikpora Denpasar juga meminta orang tua tidak hanya mengandalkan pengawasan sekolah. Sebab sebagian besar aktivitas anak berlangsung di luar jam belajar. Orang tua diminta lebih peka terhadap tontonan dan aktivitas yang sedang diikuti anak sehari-hari.
Karena itu, ia meminta para pendidik dan orang tua lebih peka terhadap aktivitas anak, baik di sekolah maupun di rumah. Banyak anak melakukan aksi berbahaya hanya karena ingin dianggap keren, mengikuti teman, atau meniru video viral tanpa memahami dampaknya.
“Guru hanya bisa mengawasi saat di sekolah. Selebihnya, peran orang tua sangat penting untuk memastikan anak tidak mengikuti tren berbahaya,” tegas Agung Wiratama.
Di sinilah pentingnya peran orang dewasa untuk memberikan edukasi sejak dini tentang batasan bermain yang aman dan bertanggung jawab. Orang tua tidak harus selalu memarahi, tetapi bisa mengajak anak berdiskusi mengenai mana aktivitas yang aman dan mana yang berbahaya.
Fenomena konten digital berbahaya ini diketahui telah memakan korban jiwa. Tren “sujud freestyle” yang terinspirasi dari konten game online dan media sosial diduga menyebabkan dua siswa TK dan SD meninggal dunia akibat cedera leher.
Peristiwa tragis tersebut salah satunya terjadi di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Korban dilaporkan meniru aksi “sujud freestyle”. Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan mendalam sekaligus menjadi peringatan serius bagi industri game, orang tua dan sekolah untuk lebih ketat mengawasi aktivitas anak. tra























