DENPASAR – Sosok Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, benar-benar melempem dalam survei Litbang Kompas pada 17-30 Januari 2022. Alih-alih mengejar Prabowo di puncak klasemen dengan elektabilitas 26,5 persen, Airlangga justru “menghilang” dari daftar tokoh yang berpeluang menjadi calon Presiden pada Pilpres 2024. Airlangga bahkan kalah dengan politisi “anak bawang”, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang keterpilihannya 3,7 persen. Namun, Partai Golkar Bali tetap optimis kenyataan tahun 2024 berbeda jauh dengan hasil survei saat ini.
Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, Kamis (24/2/2022) mengatakan, Pemilu masih dua tahun lagi. Survei yang dilakukan sekarang belum bisa dijadikan sebagai konklusi, meski dia mengakui akan menjadikan survei itu sebagai bahan kajian di internal. Dengan lain ucap, dia tetap optimis Airlangga yang diusung Golkar akan memberi kejutan kelak. Faktor historis Golkar selama mengikuti Pemilu sejak era reformasi dijadikan argumen.
“Pengalaman Pemilu 2019, setahun menjelang Pemilu, survei dari berbagai surveyor menempatkan Partai Golkar di kisaran 6 persen. Tapi faktanya Pemilu 2019 itu Golkar meraih 12,31 persen suara pemilih, bahkan sekitar 14 persen dari perolehan kursi DPR RI,” terang Wakil Ketua DPRD Bali tersebut.
Saat ini, ucapnya, struktur organisasi penetrasi sampai ke tingkat desa, dan terus dijaga serta ditingkatkan kualitas kadernya. Golkar juga membuat program-program yang prorakyat, serta peningkatan kualitas SDM struktur partai. Menimbang apa yang dijalankan selama ini, Sugawa kembali mengklaim optimis dan yakin mampu mencapai perolehan suara lebih daripada Pemilu 2019.
“Begitu juga dengan elektabilitas Pak Airlangga Hartarto, dengan perjalanan waktu dua tahun ke depan, kami yakin elektabilitas beliau akan meningkat secara signifikan,” ulasnya.
Faktor lain yang dijadikan alasan masih optimis dengan Airlangga, karena Sugawa mengamati berdasarkan hasil survei saat ini, belum ada calon presiden mampu meraih elektabilitas signifikan atau dominan. Meski di survei Litbang Kompas elektabilitas Prabowo melebihi 20 persen, tapi beberapa surveyor lain hasilnya belum sebesar 20 persen. Dia beralasan ketika keterpilihan mendekati 40 persen, baru bisa digolongkan dominan.
“Karena kalau baru 20 persen misalnya, kan berarti ada 80 persen yang tdk memilih beliau,” katanya memberi alasan.
Saat ini, jelasnya, Golkar merumuskan strategi pemenangan yang komprehensif berbasis kajian ilmiah, dan pada saatnya akan dibuktikan hasilnya. Sejak reformasi, kata Sugawa, Golkar cukup kenyang menghadapi aneka bentuk hasil survei awal semacam ini. Semua itu dijadikan bahan kajian untuk dipakai merumuskan strategi pemenangan menyongsong Pemilu 2024.
Disinggung AHY tidak menjabat tapi tetap dipilih publik, sedangkan Airlangga sebagai Menko Perekonomian dengan pemberitaan masif justru tidak dianggap, Sugawa enggan berkomentar. Termasuk soal kemungkinan lenyapnya nama Airlangga itu sebagai sinyal pola sosialisasi Golkar selama ini kurang optimal. Dia beralasan tidak mau mengomentari kandidat partai lain.
Airlangga, sebutnya, bertanggung jawab secara profesional sebagai Menteri, lebih mengedepankan tanggung jawab negara yang ditugaskan sebagai panglima terdepan mengatasi Covid-19. Juga pemulihan ekonomi nasional. “Masalah pencitraan masih dinomor-sekiankan. Tapi kerja kerja beliau pada saatnya akan dinilai positif oleh masyarakat Indonesia,” ucapnya menandaskan. hen























