POSMERDEKA.COM, BANGLI – Madu kele atau kelenceng belakangan ini cukup banyak diminati masyarakat untuk menjaga kesehatan dan campuran obat herbal. Tingginya permintaan membuat nilai jual madu jenis ini mencapai ratusan ribu rupiah per botol. Peluang ekonomi tersebut ditangkap dengan baik oleh para pembudidaya lokal di wilayah perdesaan.
Mahalnya harga madu kele membuat Made Bayu, warga asal Banjar Puraja, Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli, tertarik mengembangkan usaha ini. Mengawali usaha sejak tahun 2024, kini Bayu telah memiliki sedikitnya 40 kotak sarang kele aktif. Usaha rumahan tersebut terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran kesehatan masyarakat.
“Budidaya cukup mudah, yang penting telaten dan rajin menanam tanaman yang banyak ada bunganya,” tutur Bayu. Penjelasan itu disampaikannya di sela-sela pameran UMKM serangkaian penutupan HUT Kota Bangli ke-822 di Alun-Alun Kota Bangli, Minggu (17/5/2026) malam.
Selain menjual madu hasil budidaya, Bayu juga menyediakan madu dari sarang kele yang diambil langsung dari alam. Madu kele dari alam dinilai memiliki khasiat jauh lebih bagus, karena vegetasi pakannya lebih beragam. Di alam bebas, lebah kele bisa dengan mudah mengumpulkan sari-sari dari berbagai jenis tanaman liar.
“Silakan dicoba, jadi akan tahu bedanya madu hasil budidaya dan madu kele alam,” ucapnya sambil menawarkan kemasan botol di stannya.
Soal harga, ia menjelaskan terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara kedua jenis madu tersebut. Perbedaan harga ini didasarkan pada tingkat kesulitan pemanenan dan kualitas rasa.
Madu kele alam kemasan 100 mililiter dijual dengan harga Rp 175 ribu per botol, sedangkan hasil budidaya dipatok Rp 125 ribu. Bayu menegaskan perbedaan harga tersebut sangat sebanding dengan kualitas yang didapatkan konsumen. “Kualitasnya memang beda,” pungkasnya. gia























