DENPASAR – Gubernur Bali, I Wayan Koster, terlihat terkejut ketika anggota Fraksi PDIP DPRD Bali, Ketut Rochineng, menyebut dia ideal menjabat Gubernur dua periode, Senin (27/6/2022). Koster lalu senyum sambil menggelengkan kepala. Rochineng mengucapkan kalimat bernada provokatif itu di sela-sela membacakan Pandangan Umum Fraksi PDIP saat rapat paripurna, padahal dalam teks resmi kalimat itu tidak ada.
Rapat paripurna mengagendakan pandangan umum fraksi terhadap Raperda RTRW Bali tahun 2022-2042, dan Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Semesta Berencana 2021. Pada rapat dipimpin Ketua DPRD Nyoman Adi Wiryatama, Fraksi PDIP mendapat giliran pertama. Banyaknya materi membuat Rochineng “memborong” waktu sampai 30 menit.
Soal RTRW, Fraksi ini menyebut perlu pembahasan dan kesepakatan substansi antara Gubernur dengan DPRD, yang diterbitkan paling lama 10 hari sejak pengajuan Raperda. Fraksi juga sepakatpenyesuaian fungsi kawasan dari Kawasan Pemanfaatan Umum (usulan reklamasi Perpres Nomor51 tahun 2014 Perubahan Perpres no.45 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Sarbagita) menjadi Kawasan Konservasi. Di poin ini, Koster dipuji konsisten dan gigih memperjuangkan kawasan konservasi.
“Belum dicabutnya Perpres Nomor 51 tahun 2014, peranan penting Pemprov jadi tumpuan penolakan reklamasi untuk tetap sebagai kawasan konservasi. Pandangan Fraksi dan saya, Pak Koster ideal menjadi Gubernur dua periode,” ucap Rochineng, disambut tepuk tangan koleganya di Fraksi PDIP, juga fraksi lain. Adi Wiryatama cekikikan melihat Koster kikuk gegara pernyataan “kejutan” tadi.
Selanjutnya Fraksi Golkar dengan juru bicara Yuli Artini, mengucapkan selamat atas pencapaian Opini WTP ke-9 berturut-turut, yang disebut berkat kerja keras eksekutif dan legislatif. Fraksi juga mempertanyakan apakah revisi RTRW Bali sangat mendesak dilakukan, padahal akan berakibat ada perubahan struktur ruang dan pola ruang, kawasan maupun wilayah?
Polemik terminal khusus (tersus) LNG yang diprotes warga Intaran Sanur turut dimintai penjelasan. Pula kesalahan penganggaran dan realisasi belanja barang melampaui anggaran di 14 OPD, serta penganggaran realisasi honorarium tim pelaksana kegiatan turut dimintai penjelasan.
Ikut mengapresiasi capaian WTP Pemprov dan sepakat pembahasan Raperda RTRW dilanjutkan, Ketut Juliarta sebagai juru bicara Fraksi Gerindra minta Gubernur mempertimbangkan lokasi tersus LNG ke tempat lebih representatif. Untuk rencana pembangunan bandara di Bali Utara, dia mempertanyakan di RDTR Kabupaten Buleleng sudah menyebut penentuan lokasi detail. Padahal RDTR sebelum ditetapkan dievaluasi oleh Gubernur. “Mohon penjelasan dan dilakukan kajian lebih mendalam melibatkan aspirasi masyarakat,” pintanya.
Komang Nova Sewi Putra dari Fraksi Demokrat setuju membahas Raperda RTRW, tapi menyoroti terminal LNG agar tidak merusak lingkungan. Dia minta penjelasan penerimaan pembiayaan tahun anggaran 2021 hanya tercapai 63,64 persen atau Rp1,24 triliun lebih dari target Rp1,95 triliun lebih. Pula penjelasan terkait Silpa Rp850,34 miliar, berapa saldo dari dana PEN yang belum bisa direalisasikan, padahal dana PEN direncanakan habis dipakai tahun 2021.
“Kami dan semua anggota Dewan merasa tidak diajak dan tidak dikasi tahu dalam penyusunan anggaran, dan merasa sangat kecewa. Padahal Saudara Gubernur bilang hubungan kerja eksekutif dan legislatif berjalan baik, dan legislatif tidak pernah menghambat. Kami harap Gubernur terbuka, jangan anggota Dewan diberi pilihan setuju dan menerima saja, tidak ada pilihan lain. Termasuk menerima kesalahan oleh perangkat daerah, yang tentu atas persetujuan dan sepengetahuan Saudara Gubernur,” paparnya.
Terakhir, Somvir dari Fraksi Nasdem, PSI dan Hanura, mendorong agar persoalan tanah eks Timor Timur di Sumberklampok, Buleleng bisa segera dituntaskan dan dicarikan solusi. Yang menarik, Somvir menyebut Bali punya segalanya, dan mengusulkan ada tempat yoga sebagai ladang mendulang pendapatan. “Jika bisa kelola potensi di Bali dengan baik, saya target APBD kita bisa sampai 10 triliun,” sebut politisi asal India itu. hen
























