POSMERDEKA.COM, MATARAM – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menanggapi teguran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian soal pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2025 yang minus 1,47%.
Dia mengaku perlu meluruskan pernyataan Mendagri itu, karena kini mulai muncul meme hingga sindiran di kanal media sosial menjelang 100 hari pemerintahan Iqbal-Dinda. “Pernyataan Pak Mendagri Tito bukan merupakan teguran, tapi lebih pada sebuah pertanyaan. Jadi, jangan dibawa ke ranah politis,” klaimnya, Minggu (1/6/2025).
“Saya juga sudah berkomunikasi langsung kepada beliau (untuk) menjelaskan, karena pada saat rapat itu saya tidak bisa hadir. Jadi, saya menjelaskan setelah rapat,” sambungnya.
Menurut Iqbal, duduk perkara yang sebenarnya adalah pada sektor pertambangan. Sementara untuk sektor yang lain, pertumbuhan ekonomi NTB malah dalam posisi naik dengan angka 5,57%. Bahkan di sektor pertanian tumbuh lebih dari 10%.
Masih menurut Iqbal, sebenarnya perekonomian NTB dalam posisi yang sepatutnya. Iqbal menyebut yang memicu sektor pertambangan tidak stabil saat ini, karena smelter milik PT PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sudah resmi, sehingga izin ekspor konsentrat dihentikan.
Sejak diresmikannya smelter itu, maka izin ekspor konsentrat PT AMNT dihentikan. Sementara pada saat berjalan itu kapasitasnya baru 40%. “Jadi, terjadi penumpukan konsentrat, sehingga tidak ada produksi, produksinya turun sampai 54%,” bebernya.
Bahkan, ulasnya, dua bulan terakhir smelter itu berhenti sama sekali karena ada masalah yang harus diinvestigasi. Dengan begitu, dia melihat adanya penurunan ini karena sektor pertambangan saja. Bukan hanya AMNT yang mengalami seperti itu, Freeport juga mengalami serupa.
Lebih jauh disampaikan, dia sejak awal diperingatkan oleh Tim Transisi soal kemungkinan akan ada penurunan pertumbuhan ekonomi jika digabungkan dengan tambang. Itu sebabnya dua pekan lalu dia bertemu dengan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, untuk minta agar ada relaksasi ekspor bagi PT AMNT dalam jumlah dan waktu tertentu untuk mengatasi persoalan ini.
Dampak dari masalah ini harus segera diatasi, karena jika tidak maka akan berdampak ke sektor yang lain. “Kalau ini tidak segera kita atasi, maka tahun depan itu bagi hasilnya bisa nol,” ungkapnya.
Sejauh ini, ucapnya, komponen lain sebenarnya sudah berkontribusi banyak terhadap pertumbuhan ekonomi NTB, bahkan cenderung positif. Namun, karena adanya masalah di sektor pertambangan, maka terjadilah situasi ini.
Masalahnya adalah sektor tambang pengaruhnya cukup besar, apalagi kontraksi yang dialami tambang ini lebih dari 30% atau minus 30%. Jadi, mau tidak mau akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi NTB secara umum.
“Saya sudah menjelaskan kepada Mendagri dan beliau memahami situasi itu. Oh ini ternyata jawaban dari pertanyaan saya,” tandas Iqbal menirukan tanggapan Mendagri. rul
























