DENPASAR – Ditetapkannya proyek sistem pembayaran jalan tol nirsentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF) sebagai proyek strategis nasional, disambut positif anggota Komisi VI DPR RI, Gde Sumarjaya Linggih. Anggota Fraksi Partai Golkar itu juga berharap proyek MLFF dapat segera berjalan tahun ini.
Menurut Demer, sapaan karibnya, dengan diimplementasikannya MLFF, yang memungkinkan pengguna tol tidak harus berhenti saat membayar di gardu tol, akan berdampak ekonomi cukup besar. Khususnya terkait efisiensi biaya, kelancaran arus penumpang maupun barang dan jasa.
Menurutnya, selama ini setiap libur panjang Lebaran maupun akhir tahun, di sejumlah gardu tol selalu terjadi kemacetan yang menyita banyak waktu. Saat libur akhir tahun baru 2023 di Bali juga terjadi kemacetan parah di Tol Bali. “Jalan tol di kota-kota besar seperti Jakarta juga selalu macet di jam-jam pergi dan pulang kantor, yang salah satunya karena antrean di gerbang tol,” paparnya, Jumat (17/5/2024).
Menimbang kondisi itu, sambungnya, sudah waktunya Indonesia mengatasi. Jika dikalkulasi, dia menilai kerugian ekonomi sebagai dampak dari kemacetan tersebut sangat besar. Selain waktu, juga berapa banyak bahan bakar minyak terbuang.
Menurut penjelasan Kemenhub, sambungnya, di Jakarta saja kerugian akibat kemacetan mencapai Rp65 triliun per tahun. Angka itu dihitung dari pemborosan BBM dan waktu yang terbuang. Belum lagi kerugian sosial, mulai dari polusi hingga berkurangnya waktu untuk bersama keluarga.
“Sudah saatnya masalah ini diatasi dengan solusi yang applicable dan berkelanjutan, tidak bisa hanya situasional seperti misalnya pengaturan arus lau lintas,” papar Korwil Pemenangan Pemilu Bali-Nusra DPP partai Golkar tersebut.
Dihimpun dari berbagai sumber, MLFF adalah metode pembayaran jalan tol yang memungkinkan pengguna jalan melintasi gerbang tol tanpa perlu berhenti. Sistem ini menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS), meliputi sistem seperti GPS, untuk mengatur transaksi pembayaran. Transaksi dapat dilakukan melalui aplikasi Cantas di telepon pintar yang dibantu satelit.
Dengan memanfaatkan teknologi satelit ini, MLFF melakukan penghitungan otomatis tarif tol berdasarkan jarak yang ditempuh kendaraan. Jadi, mengeliminasi kebutuhan bilik tol fisik dan mengurangi perlunya kendaraan berhenti atau melambat di gerbang tol. Sistem MLFF sejak 12 Desember 2023 diuji-cobakan di Tol Mandara Bali oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
Uji coba berjalan baik, dan rencananya sistem MLFF akan diterapkan bertahap mulai dari Tol Mandara Bali pada Oktober 2024 setelah memperhatikan kesiapan, kelengkapan infrastruktur, penegakan hukum dan kesiapan masyarakat. Selama masa transisi ini, sistem yang digunakan adalah Single Line Free Flow dengan tetap menggunakan barrier.
MLFF ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) non- APBN berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Nomor 6 Tahun 2024. Proyek MLFF dilaksanakan menggunakan skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), yakni PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) dan merupakan investasi asing langsung dari Hungaria senilai USD 300 juta (Rp4,5 triliun). hen
























