Dari Menulis Aksara Bali, Mejejaitan hingga Yoga, Seluruh Siswa SMP di Denpasar Ikuti Pasraman Kilat

SISWA SMPN 3 Denpasar mengikuti pasraman kilat di sekolah, Senin (7/8/2023). Foto: ist
SISWA SMPN 3 Denpasar mengikuti pasraman kilat di sekolah, Senin (7/8/2023). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Seluruh siswa SMP negeri dan swasta se-Kota Denpasar serentak mengikuti pasraman kilat mulai Senin (7/8/2023). Pasraman kilat digelar selama tiga hari hingga Rabu (9/8/2023) dalam rangka mengisi waktu libur hari raya Galungan dan Kuningan.

Di SMPN 3 Denpasar, misalnya. Pasraman kilat yang dibuka Kepala SMPN 3 Denpasar, I Gusti Ayu Putu Tirtawati, diawali dengan persembahyangan bersama. Selanjutnya diiisi dharma wacana oleh penyuluh agama Hindu.

Bacaan Lainnya

Setelah itu, siswa diajak praktik mejejaitan membuat sarana upakara seperti aledan, ceper, canang, tamiang dan lainnya. Pasraman kilat tidak hanya diikuti siswa beragama Hindu, juga digelar pesantren kilat untuk siswa beragama Islam, Budha, Kristen Protestan, dan Katolik didampingi oleh guru agama masing-masing.

“Kegiatan pasraman ini dilaksanakan mengisi jeda hari libur Galungan dan Kuningan untuk meningkatkan sradha, bhakti, iman dan taqwa kepada Tuhan Hyang Maha Esa,” kata Tirtawati.

Kegiatan serupa juga dilaksanakan di SMPN 8 Denpasar. Siswa beragam Hindu mengikuti pasraman kilat, sedangkan siswa beragama Islam dan Kristen mengikuti pesantren kilat.

Kegiatan di sekolah ini dibuka oleh Kepala SMPN 8 Denpasar, I Wayan Kamasan. Acara diawali dengan dharma wacana dan dilanjutkan praktik membuat canang sari dan kulit tipat. Kegiatan di sekolah ini dilaksanakan secara bertahap, diawali siswa kelas 7. Hari kedua siswa kelas 8 dan hari terakhir siswa kelas 9.

Di SMP PGRI 2 Denpasar, menurut Kasek Ayu Sri Wahyuni, pasraman kilat diisi dengan dharma wacana, mejejahitan, meulat ulatan dan yoga. Pada hari pertama, pasraman kilat diisi dengan dharma wacana dan menulis aksara Bali. Siswa lain juga mendapat sosialisasi dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar tentang kesehatan jiwa remaja.

Dari dua agenda ini diharapkan siswa mampu meningkatkan kreativitas serta menumbuhkan dan melestarikan agama, seni, dan budaya di Bali. Serta menciptakan remaja Indonesia yang sehat, cerdas, dan berbahagia.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, mengapresiasi pelaksanaan pasraman dan pesantren kilat yang telah digelar sekolah. Ditegaskan, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, namun juga berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Pendidikan tak hanya mengejar angka-angka, tetapi juga mengutamakan budi pekerti. Keberhasilan anak-anak dalam menempuh pendidikan juga diukur dari segi moralnya. Makanya, mengisi libur hari raya ini, mereka (siswa) bisa diperkenalkan dengan tatanan kehidupan adat dan masyarakat Bali, maupun nilai-nilai positif lokal genius lainnya.

Momentum hari raya Galungan dan Kuningan, kata dia, merupakan sebuah bentuk penguatan nilai-nilai budi pekerti. Anak-anak bisa mempelajari tradisi keagamaman pada masyarakat (orangtua) seperti mejejahitan atau metanding banten. ‘’Itu sebuah bentuk transformasi nilai budaya dan agama,’’ tandasnya. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses