POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Ibunda Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Bali Bali, Putri Suastini Koster, menekankan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan dan perlindungan profesi guru. “Profesi guru memiliki peran sentral dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” ujar Putri Koster.
Hal itu disampaikan Putri Koster saat membuka Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) PGRI Bali Tahun 2026 di Denpasar, Jumat (29/5/2026). Konkerprov kali ini mengusung tema “Memperkuat Solidaritas dalam Mewujudkan Guru Bermutu Indonesia Maju”.
Menurut Putri, lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen pada 2005 menjadi tonggak penting dalam meningkatkan martabat profesi guru melalui sertifikasi, perlindungan profesi, serta peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
“Kalau guru tidak diperhatikan dan tidak sejahtera, bagaimana kita bisa menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas? Karena guru adalah fondasi utama pendidikan,” tegasnya.
Ketua PGRI Bali, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, mengatakan, tema Konkerprov tersebut dipilih sebagai respons terhadap berbagai tantangan pendidikan, mulai dari perubahan teknologi, kebutuhan peningkatan kompetensi guru, hingga penguatan organisasi profesi.
“Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, PGRI harus tetap menjadi rumah besar perjuangan guru dan tenaga kependidikan,” ujarnya.
Melalui Konkerprov 2026, PGRI Bali berharap dapat merumuskan program kerja yang realistis dan berdampak bagi peningkatan kualitas pendidikan di Bali. Penguatan solidaritas organisasi, peningkatan kompetensi digital, budaya literasi, serta perjuangan terhadap kesejahteraan guru menjadi sejumlah agenda utama yang akan terus diperjuangkan dalam periode mendatang
Forum tahunan tersebut menjadi ajang evaluasi program kerja sekaligus penyusunan arah kebijakan organisasi dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang. Melalui kegiatan ini, PGRI menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia di Provinsi Bali.
Eddy menjelaskan, sepanjang 2025 PGRI Bali aktif mengikuti berbagai agenda nasional seperti Konferensi Kerja Nasional (Konkernas), Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas), dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas). Selain itu, organisasi juga menjalankan program penguatan kelembagaan, seminar pendidikan, kegiatan literasi, hingga advokasi perlindungan profesi guru.
Memasuki 2026, PGRI Bali akan memprioritaskan sejumlah program strategis, di antaranya peningkatan profesionalisme guru, transformasi digital organisasi, perlindungan dan kesejahteraan guru, pengembangan persekolahan PGRI, serta penguatan sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan.
Salah satu program unggulan yang akan diluncurkan adalah Aplikasi Sedana PGRI (Sistem Elektronik Dana Anggota PGRI) yang diharapkan mampu memperkuat layanan organisasi bagi anggota.
Selain itu, PGRI Bali juga akan menjalankan Program PGRI Power 2026 yang mencakup Gerakan Satu Juta Guru Mahir Koding dan Artificial Intelligence (AI), Perempuan Berdaya AI, serta Guru Indonesia Maraton Belajar (Gemar).
“Guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru menghadapi perubahan zaman,” kata Eddy.
Dalam rangkaian Konkerprov tersebut, PGRI Bali juga memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba literasi yang diikuti ratusan guru dari seluruh Bali. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong budaya membaca dan menulis di kalangan pendidik.
Sementara itu, Ketua Panitia Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) PGRI Bali Tahun 2026, M. Rida, mengatakan lomba literasi tersebut terdiri atas lima kategori, yakni cerpen Bahasa Indonesia, cerpen Bahasa Bali, puisi Bahasa Bali, guru menulis, dan satu kategori literasi lainnya.
“Dari lima kategori itu masing-masing dipilih 10 pemenang, sehingga total ada 50 guru yang memperoleh penghargaan,” ujar Rida.
Para pemenang memperoleh piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp2 juta. Apresiasi tersebut diharapkan mampu memotivasi guru untuk terus berkarya melalui tulisan.
Menurut Rida, jumlah peserta yang mencapai 756 orang menunjukkan adanya antusiasme guru terhadap kegiatan literasi. Namun angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan jumlah guru di Bali yang diperkirakan mencapai sekitar 50 ribu orang. tra
























