Pamelaspas Cihna Batur Let, Gubernur Koster Tegaskan Hentikan Komersialisasi Gunung Batur

GUBERNUR Wayan Koster bersama tokoh adat Batur dan jajaran Forkopimda menghadiri upacara Pamlaspas Cihna di lokasi Titik Nol Desa Adat Batur Let, Bangli, Rabu (29/7/2026). Foto: ist
GUBERNUR Wayan Koster bersama tokoh adat Batur dan jajaran Forkopimda menghadiri upacara Pamlaspas Cihna di lokasi Titik Nol Desa Adat Batur Let, Bangli, Rabu (29/7/2026). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Desa Adat Batur menggelar upacara Pamlaspas Cihna di lokasi Titik Nol Desa Adat Batur Let (Batur Kuno), kawasan Black Lava, Bangli, Rabu (29/7/2026). Upacara ini merupakan rangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur, guna mengenang sejarah perpindahan masyarakat akibat letusan Gunung Batur sekaligus meneguhkan kesucian kawasan Batur. Acara dihadiri Ida Dalem Semara Putra, Gubernur Bali, Wayan Koster; Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra; Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, Wabup Wayan Diar, Palinggih Dane Jero Gede Batur, serta perwakilan BKSDA Bali.

Ketua Panitia 100 Tahun Rarud Batur, Made Santika, menjelaskan, peringatan 100 tahun bencana erupsi dahsyat tersebut difokuskan sebagai media edukasi generasi muda. “Peringatannya akan dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 8 Agustus 2026, yang kami kemas dalam bentuk festival,” kata Santika.

Read More

Dalam kesempatan yang sama, Jero Penyarikan Duuran Batur membeberkan kawasan Titik Nol tersebut dinamakan Purwa Mandala Batur, yang menjadi pusat permukiman awal masyarakat sebelum bencana erupsi. Penentuan lokasi Batur Kuno dilakukan melalui kajian dokumen sejarah, foto peninggalan Belanda, hingga pendekatan spiritual.

Jero Penyarikan Duuran Batur menegaskan, pembangunan di lokasi tersebut murni sebagai penanda sejarah, bukan untuk mendirikan pura baru. “Sekali lagi kami tegaskan, kami tidak membangun pura di tempat ini, tetapi membangun simbol edukasi agar masyarakat dan generasi berikutnya mengetahui di mana letak Desa Batur dan Pura Ulun Danu Batur pada masa lampau,” urainya.

Pihaknya juga mengajak masyarakat mengikuti Batur Village Festival, serta kegiatan napak tilas rute relokasi leluhur dari Titik Nol menuju Desa Bayunggede hingga ke lokasi Desa Batur saat ini. Rangkaian acara tersebut dirancang untuk menguatkan kesadaran kolektif atas identitas dan sejarah perjuangan masyarakat Batur.

Sementara itu, Gubernur Wayan Koster menyampaikan rasa syukur dapat mempelajari secara langsung sejarah 100 Tahun Rarud Batur di lokasi aslinya. Koster menyebut Batur sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Bali yang menyatukan unsur gunung, danau, dan nilai spiritualitas. “Batur adalah kawasan yang istimewa. Gunung, danau, dan nilai spiritual menyatu sebagai warisan yang harus kita jaga bersama,” lugasnya.

Koster mengingatkan agar pemanfaatan kawasan Batur tetap memprioritaskan kelestarian lingkungan dan nilai-nilai kesucian. Dia menegaskan pencarian taraf hidup tidak boleh dilakukan dengan merusak alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Bali. “Gunung yang metaksu seharusnya kita hormati dan nikmati dari kejauhan, bukan dengan cara menginjak-injaknya,” serunya.

Sebagai langkah konkret, Koster berjanji berkoordinasi dengan BKSDA Bali untuk menghentikan segala bentuk komersialisasi serta aktivitas yang berpotensi memicu kekotoran (leteh) di Gunung dan Danau Batur. Rangkaian upacara pamelaspas diakhiri dengan penandatanganan prasasti, serta penanaman pohon beringin sebagai simbol keberlanjutan lingkungan. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.