BANGLI – Labu siam (di Bali disebut jipang) banyak ditanam warga di daerah Kintamani, khususnya Desa Pinggan. Belakangan harga labu siam juga cenderung membaik. Sayang, cuaca ekstrem saat ini mengacaukan produksi petani.
Petani labu siam di Desa Pinggan, Made Wirya (51), belum lama ini menuturkan, cuaca buruk mengakibatkan hasil produksinya turun. Dari sekitar 40 are lahan kebunnya, saat ini hanya mampu menghasilkan satu ton lebih setiap kali panen. Padahal dalam cuaca normal mampu menghasilkan sampai tiga ton lebih. Untuk pemasaran, dia menjual langsung ke Pasar Klungkung.
“Satu kantong kresek dengan berat 16 kg dijual Rp20 ribu atau Rp1.250 per kilogram,” sebutnya.
Salah seorang pengepul labu siam, I Wayan Karmin, berujar, pemasaran hasil panen labu siam masyarakat Pinggan sudah tembus antarpulau. Dia mengklaim labu siam asal Pinggan banyak dipasarkan ke Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara untuk pasar lokal, dia mengirim ke Pasar Baturiti (Tabanan), juga ke Badung, Denpasar, Gianyar dan Klungkung. “Total pengiriman dalam satu hari bisa sampai 24 truk,” bebernya.
Bendesa Adat Pinggan, Made Seden, mengakui cuaca buruk berdampak terhadap merosot drastisnya produksi labu siam di wilayahnya. ”Ini tentu merupakan kerugian bagi warga kami, mengingat labu siam ini sebagian besar dikembangan oleh masyarakat,” sebutnya.
Lebh jauh dipaparkan, dalam satu hektar lahan, labu siam yang dihasilkan bisa sampai delapan ton sekali panen dengan waktu panen 7 sampai 10 hari sekali. Namun, kini hanya bisa didapat antara 4 s.d. 5 ton per hektarnya. Soal harga jual, dia menyebut di tingkat pengepul Rp800 per kilogram. Sebelumnya malah cuma laku dengan harga Rp500/kg. “Sayang, saat harga justru tapi produksi labu siam kami turun,” ulasnya.
Perawatan tanaman labu siam, sambungnya, relatif mudah dengan masa hidup relatif lama hingga lima tahun. Petani perlu rajin memetik daun yang tua supaya renggang. “Jika tidak dipetik yang tua, maka tidak akan bisa berbuah lebat,” pungkasnya. gia
























