Catat! Cuaca Buruk, BPBD Bangli Ingatkan Warga Waspada

TANAH longsor menimpa rumah warga di Bangli, belum lama ini. Cuaca buruk yang terjadi belakangan ini, BPBD Bangli mengingatkan warga waspada. Foto: gia
TANAH longsor menimpa rumah warga di Bangli, belum lama ini. Cuaca buruk yang terjadi belakangan ini, BPBD Bangli mengingatkan warga waspada. Foto: gia

BANGLI – Cuaca ekstrem dan susah diprediksi memiliki relevansi dengan menurunnya kualitas alam dan lingkungan sekitar. Musim panas melahirkan kekeringan hebat dan kebakaran hutan, sedangkan pada musim hujan terjadi banjir di mana-mana.

Masuk musim hujan saat ini, BPBD Bangli menerapkan langkah antisipasi awal. Anomali cuaca yang terjadi di Bangli mengharuskan BPBD meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Hal tersebut disampaikan Kalak BPBD, Bangli I Ketut Gede Wiradana, Selasa (20/10/2020).

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut disampaikan, anomali cuaca yakni hujan yang tidak merata dan sebagian daerah mengalami kekeringan. Anomali ini menimbulkan beberapa bencana seperti sering terjadi akhir-akhir ini, antara lain kebakaran lahan di Kecamatan Kintamani dan longsor di beberapa titik wilayah tertentu akibat angin kencang serta hujan lebat. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, jelasnya, Bupati I Made Gianyar mengeluarkan imbauan kepada para camat untuk diteruskan ke jajaran desa/kelurahan.

“Di antaranya agar memangkas pohon yang rimbun, dan menebang pohon yang sekiranya berisiko membahayakan rumah tempat tinggal. Hal ini sudah dilakukan sebagian besar masyarakat,” ungkapnya

Dia menambahkan, pengguna jalan raya juga diimbau selalu waspada dan siaga saat melintas di jalur rawan tanah longsor. Masyarakat yang tinggal di daerah kering, sambungnya, diharap waspada ketika hendak membakar sampah. Warga diminta tidak membakar sampah pada siang hari, karena terik matahari terik dan angin kencang mengakibatkan api mudah menjalar ke mana-mana.

Selama ini, urainya, kebakaran lahan terjadi hampir setiap tahun di daerah paling rawan di Kecamatan Kintamani. Karena itu, masyarakat diimbau berhati-hati melakukan aktivitas menggunakan api. Misalnya jika menggunakan dupa, warga dipesan agar mencabut jika usai sembahyang. Bila memasak menggunakan tungku, imbuhnya, masyarakat tidak diperkenankan meninggalkan tungku dengan bara api masih membara untuk mencegah kebakaran. 028 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses