MULAI sengitnya kontestasi politik untuk menonjolkan kelompok sendiri di atas kelompok pesaing, tidak melulu dengan cara serius atau “seram”. Strategi komunikasi dengan canda dan lelucon dipilih Partai Golkar untuk menggelitik kubu lawan tanding ketika Musda Partai Golkar Badung, Sabtu (25/7/2020). Alih-alih tersinggung, gelak tawa justru lahir sebagai respons yang disasar.
Saat memberi sambutan di panggung sebelum pembukaan Musda, Plt Ketua DPD Partai Golkar Badung, I Wayan Suyasa, menuturkan pentingnya persatuan partai sebagai entitas politik. Meski di hadapannya duduk Putu Parwata, Sekretaris DPC PDIP Badung sebagai partai mayoritas di Badung, Suyasa tak malu-malu menyuarakan pikirannya. Dengan bersemangat, dia mengajak semua kader di Badung bersatu membesarkan Golkar, terutama dalam menghadapi Pilkada Badung. Coba tebak tujuannya apa?
“Supaya PDIP tidak single fighter (berkuasa sendiri) di Badung. Ampura (maaf) Pak Parwata, kami ini sama-sama tertindas,” cetusnya sembari menahan tawa. Untuk diketahui, Suyasa menjabat Wakil Ketua DPRD Badung, sedangkan Parwata selaku Ketua DPRD.
Seperti kompak dengan tawa ratusan kader yang memadati ruangan, Parwata yang duduk di sebelah Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, spontan tergelak sampai badannya terguncang. Dari semua petinggi partai duduk di jejeran kursi utama, hanya partainya Parwata, yang mengenakan kemeja merah, tidak masuk barisan koalisi.
“Merdeka” teriaknya tertawa seraya mengacungkan lengan ke udara. Sebagai bentuk permintaan maaf atas “keusilan” itu, begitu turun dari panggung Suyasa menghampiri Parwata dan bersalaman siku sembari tertawa.
Usai Suyasa, giliran Sugawa Korry menyemangati kader untuk memenangkan Pilkada Badung. Sebagai pembuka, dia memuji Parwata sebagai sahabat dan kolega, dan Ketua DPC Gerindra Badung, Disel Astawa, sebagai adiknya. Lalu dia menuturkan perjalanan bagaimana IGN Agung Diatmika bisa dimunculkan sebagai calon Bupati Badung untuk menantang petahana. Ketika Sugawa bercerita, Parwata duduk santai sembari sesekali memainkan ponselnya.
Bertarung di Badung, kata Sugawa, ada rumus niskala. Dia menyebut kombinasi angka 21, 21,21, semacam cocoklogi atas suatu peristiwa tertentu. Mengupas sejarah Bupati Badung, dia menyebut I Dewa Gede Oka menjabat dua periode, dilanjutkan Pande Made Latra satu periode. Kemudian IGB Alit Putra dua periode, disambung AA Oka Ratmadi satu periode. AA Gde Agung mulus dua periode, dan petahana Giri Prasta menjelang berakhir satu periode.
“Nah, pertanyaannya, apakah sekarang ini (Giri Prasta) satu periode saja? Semua bergantung pituduh (petunjuk) Widhi dan semangat para kader di Badung,” godanya. Lagi-lagi Parwata tertawa mendengar guyonan politik tersebut. “Merdeka!” teriaknya kembali disambung cekikikan.
Ya, pentas politik praksis memang tidak selalu segendang sepenarian dengan ketegangan, cemberut, saling hujat, atau bahkan saling baku fisik. Publik seyogianya lebih banyak disuguhkan narasi politik yang mengedepankan adab, kesantunan, gelak tawa, dan tetap menjaga persaudaraan. Sebab, sehebat apapun seorang politisi, kodrat utamanya lahir ke dunia adalah tetap sebagai manusia. Gus Hendra
























