Buka Pariwisata Rawan Terjegal Zona Merah Corona, Adu Sprint Penyebaran Vs Vaksinasi

  • Whatsapp
AAN Adhi Ardhana dan Dewa Made Mahayadnya. Foto: hen
AAN Adhi Ardhana dan Dewa Made Mahayadnya. Foto: hen

DENPASAR – Tingginya harapan masyarakat Bali agar pintu pariwisata internasional segera dibuka, sejak lama digaungkan. Meski pemerintah pusat berjanji pariwisata mancanegara akan diuji coba pada Juni mendatang, rencana itu rawan terjegal jika zona merah Corona masih memenuhi Bali. Menyeimbangkan antara harapan buka pariwisata dengan menjaga kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan menjadi kuncinya.

Wakil Ketua PHRI Bali, AA Ngurah Adhi Ardhana, menilai saat ini yang terjadi adu sprint antara tingkat penyebaran Covid-19 dengan upaya vaksinasi yang digalakkan pemerintah. Kondisi itu menjadi tantangan pemerintah, terutama Pemprov Bali, sebagai pihak paling berkepentingan untuk pemulihan ekonomi. “Apalagi Bali kan yang sudah diwacanakan dan disiapkan untuk uji coba pembukaan pariwisata internasional pada Juni 2021 ini. Ini persoalan sekaligus tantangan pada saat bersamaan,” ucapnya, Minggu (18/4/2021).

Bacaan Lainnya

Ardhana tak memungkiri angka kasus positif Corona di Bali masih fluktuatif, bisa sehari jumlahnya sedikit, hari berikutnya melonjak tinggi. Rerata angka kasus harian juga masih tiga digit. Dalam pengamatannya, ujian sepanjang bulan April ini adalah banyaknya kegiatan adat dan agama di masyarakat, dan itu memang diperbolehkan oleh pemerintah.

“Memang pemerintah selalu menekankan agar setiap pelaksanaan kegiatan adat atau agama itu menerapkan prokes secara ketat. Cuma, ya, mengontrol itu secara ketat memang sulit juga, kecuali lahir dari kesadaran masyarakat sendiri,” cetusnya.

Baca juga :  Belajar di Rumah, Guru Wajib Bimbing Siswa

Disinggung Provinsi Kepri sudah siap membuka pariwisata internasional dengan pola Travel Corridor Arrangement (TCA) dengan Singapura, Ardhana memandang Bali memiliki peluang untuk melakukan strategi serupa. Intinya, membuat TCA dengan negara-negara pasar potensial seperti China atau Singapura. Masalahnya, kata dia, apakah Bali dapat menjamin keamanan wisatawan saat melancong ke Bali tidak tertular Corona? “Kondisi kita di Bali rasanya masih jadi pertanyaan dan pertimbangan kalau mau mencoba TCA itu,” tegasnya.

Anggota Komisi 2 DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya, berujar cepat atau lambatnya buka pariwisata internasional sangat bergantung kedisiplinan warga sendiri. Alasannya, standar buka pariwisata internasional itu adalah secara keseluruhan di wilayah itu zona hijau. “Apalagi perlu didebatkan kalau sudah jelas semua? Lebih baik siapkan dengan baik wilayah kita, lobi pusat bagaimana vaksin bisa diberi ke Bali, sehingga semoga Juni vaksinasi selesai dan Juli bisa buka pariwisata,” seru Ketua Fraksi PDIP yang biasa disapa Dewa Jack itu.

Alih-alih membuat TCA dengan negara lain, pengusaha restoran itu memandang lebih penting adalah bagaimana memastikan vaksinasi segera tuntas. Minimal 70 persen warga di Bali divaksin sesuai standar WHO. Kalaulah membuat TCA, tapi vaksinasi belum beres, dia pesimis ada negara sudi melirik Bali untuk dikunjungi.  

Mengapa tidak meniru cara komunikasi Pemprov Kepri yang bernada mengancam akan ada PHK besar jika pasar pariwisata tidak dibuka pada Juni mendatang? Bagi dia, tidak ada gunanya memaksa buka jika yang diharap datang justru tidak datang. Lebih baik Bali serius menunjukkan “lulus” terbaik dalam membuat zona hijau. Ketika sudah zona hijau tapi tidak kunjung dibuka, pada momen itulah baru tepat untuk Bali bersikap keras kepada pemerintah pusat.

Baca juga :  Zona Merah Corona, Tabanan Terapkan PPKM Hingga 25 Januari

“Kalau perlu kami ketemu Menlu untuk pasar internasional dibuka ke Bali, tapi ini kan masih banyak zona merah. Semua pasti mau ekonomi kembali normal, tapi wabah ini butuh kedisiplinan kita semua,” ajaknya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.