BPOM RI Awasi Uyah Kusamba Sebagai Pangan Fortifikasi

BUPATI Suwirta mengikuti pertemuan dengan BPOM RI secara virtual di ruang rapat Bupati Klungkung, Kamis (17/9). Foto: ist
BUPATI Suwirta mengikuti pertemuan dengan BPOM RI secara virtual di ruang rapat Bupati Klungkung, Kamis (17/9). Foto: ist

KLUNGKUNG – Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito, melakukan pengawasan garam beryodium di Kabupaten Klungkung sebagai salah satu pangan fortifikasi. Pengawasan secara virtual itu diikuti Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta, di ruang rapat Bupati Klungkung, Kamis (17/9).

“Sesuai amanat Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, Pemerintah berwenang menetapkan fortifikasi pangan dan memberlakukan secara wajib,” kata Penny Lukito.

Read More

Lebih jauh diuraikan, program pangan fortifikasi merupakan program lintas sektor yakni Kementerian Kesehatan, Perindustrian, Perdagangan, termasuk pemerintah daerah. Dalam hal ini, sebutnya, Badan POM mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan pengawasan pangan fortifikasi. Khusus untuk produk garam fortifikannya adalah yodium, dan merupakan produk yang wajib memenuhi SNI serta registrasinya harus di Badan POM.

Karena itu, jelasnya, Badan POM mempunyai kewajiban melakukan pengawasan terhadap produk tersebut. Mulai dari sarana produksi, distribusi, pengecer, melakukan sampling dan uji laboratorium, serta melakukan monitoring label dan periklanan.

Suwirta dalam paparannya menjelaskan, di Klungkung ada banyak potensi yang mendukung dalam pembuatan garam. Salah satunya tersedia sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan berkualitas, lahan untuk pembuatan garam juga cukup luas dengan sekira 10.800 meter persegi untuk 18 petani, dan rata-rata lahan 6 sampai dengan 7 are per tani. Metode pembuatan garam, terangnya, masih sangat tradisional dengan alat yang manual.

“Ini menjadi daya tarik wisatawan untuk datang dan melihat pembuatan garam di Kusamba. Dengan kata lain, produksi uyah (garam) Kusamba juga mendukung sektor pariwisata di Kabupaten Klungkung,” ulasnya.

Terkait garam beryodium, dia mendaku ada sinergi antara Pemkab Klungkung dan pelaku usaha dalam produksi sekaligus distribusi garam Kusamba. Agar hasil produksi optimal, lanjutnya, Pemkab memberi bantuan mesin pompa untuk petani garam, bantuan mesin pencampur dan pengemasan untuk produsen garam beryodium, serta bantuan mesin pengering untuk mengurangi kadar air pada garam.

Dengan bantuan tersebut, saat ini rata-rata produksi garam beryodium mencapai dua ton per bulan. “Untuk memperoleh hasil yang maksimal, kami melakukan studi banding serta mendorong petani muda milenial untuk bertani garam, agar ke depan petani garam tradisional tidak punah,” sebutnya.

Untuk distribusi, imbuh Suwirta, Koperasi LEEP Mina Segara Dana mendistibusikan uyah kusamba ke PT Mitra Gema Santi yang selanjutnya didistribusikan ke Pemkab, dengan kewajiban seluruh PNS membeli garam beryodium bermerek Uyah Kusamba tersebut. Selain itu ada 18 toko swalayan, 8 koperasi, dan 1 Bumdes yang menjadi titik pendistibusian.

“Saya berharap usaha garam beryodium Uyah Kusamba mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi di masyarakat,” tutupnya. 022

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.